:::Catatannya The Echo:::

Thursday, February 13, 2025

M-Score : Professor Messod Beneish : Mendeteksi kemungkinan manipulasi laporan keuangan

Contoh Laporan Keuangan Usaha "Apa Saja"

Laporan Laba Rugi

KeteranganApa (Rp)Saja (Rp)
Penjualan500,000,000700,000,000
Harga Pokok Penjualan (HPP)300,000,000400,000,000
Laba Kotor200,000,000300,000,000
Beban Operasional50,000,00070,000,000
Laba Operasional150,000,000230,000,000
Pajak (10%)15,000,00023,000,000
Laba Bersih135,000,000207,000,000

Laporan Neraca

KeteranganApa (Rp)Saja (Rp))
Aset Lancar200,000,000300,000,000
Aset Tetap500,000,000700,000,000
Total Aset700,000,0001,000,000,000
Liabilitas200,000,000300,000,000
Ekuitas500,000,000700,000,000
Total Liabilitas dan Ekuitas700,000,0001,000,000,000

Perhitungan Fraud dengan Model Beneish M-Score

Model Beneish M-Score digunakan untuk mendeteksi kemungkinan adanya manipulasi laporan keuangan. Berikut adalah rumus dan contoh perhitungannya:

Rumus Beneish M-Score

MScore=4.84+(0.92×DSRI)+(0.528×GMI)+(0.404×AQI)+(0.892×SGI)+(0.115×DEPI)+(0.172×SGAI)+(4.679×TATA)+(0.327×LVGI)

Indikator dan Perhitungan

  1. Days Sales in Receivable Index (DSRI):

    DSRI=Account Receivablest/SalestAccount Receivablest1/Salest1
  2. Gross Margin Index (GMI):

    GMI=(Salest1COGSt1)/Salest1(SalestCOGSt)/Salest
  3. Asset Quality Index (AQI):

    AQI=1(Current Assetst+Net Fixed Assetst)/Total Assetst1(Current Assetst1+Net Fixed Assetst1)/Total Assetst1
  4. Sales Growth Index (SGI):

    SGI=SalestSalest1
  5. Depreciation Index (DEPI):

    DEPI=Depreciation Expenset1/(Depreciation Expenset1+Net PPEt1)Depreciation Expenset/(Depreciation Expenset+Net PPEt)
  6. Sales, General and Administrative Expenses Index (SGAI):

    SGAI = \frac{\text{SG&A Expenses}_t / \text{Sales}_t}{\text{SG&A Expenses}_{t-1} / \text{Sales}_{t-1}}
  7. Leverage Index (LVGI):

    LVGI=(Long Term Debtt+Current Liabilitiest)/Total Assetst(Long Term Debtt1+Current Liabilitiest1)/Total Assetst1
  8. Total Accruals to Total Assets (TATA):

    TATA=(Working CapitaltWorking Capitalt1)(CashtCasht1)+(Income Tax PayabletIncome Tax Payablet1)+(Current Maturities of Long Term DebttCurrent Maturities of Long Term Debtt1)Depreciation ExpensetTotal Assetst

Contoh Perhitungan

Misalkan kita memiliki data berikut:

  • Account Receivables: Rp 50,000,000 (tahun ini), Rp 45,000,000 (tahun lalu)
  • Sales: Rp 1,200,000,000 (tahun ini), Rp 1,000,000,000 (tahun lalu)
  • COGS: Rp 800,000,000 (tahun ini), Rp 700,000,000 (tahun lalu)
  • Current Assets: Rp 300,000,000 (tahun ini), Rp 250,000,000 (tahun lalu)
  • Net Fixed Assets: Rp 500,000,000 (tahun ini), Rp 450,000,000 (tahun lalu)
  • Total Assets: Rp 1,000,000,000 (tahun ini), Rp 900,000,000 (tahun lalu)
  • Depreciation Expense: Rp 50,000,000 (tahun ini), Rp 45,000,000 (tahun lalu)
  • SG&A Expenses: Rp 100,000,000 (tahun ini), Rp 90,000,000 (tahun lalu)
  • Long Term Debt: Rp 200,000,000 (tahun ini), Rp 180,000,000 (tahun lalu)
  • Current Liabilities: Rp 150,000,000 (tahun ini), Rp 130,000,000 (tahun lalu)
  • Working Capital: Rp 100,000,000 (tahun ini), Rp 90,000,000 (tahun lalu)
  • Cash: Rp 50,000,000 (tahun ini), Rp 45,000,000 (tahun lalu)
  • Income Tax Payable: Rp 20,000,000 (tahun ini), Rp 18,000,000 (tahun lalu)
  • Current Maturities of Long Term Debt: Rp 10,000,000 (tahun ini), Rp 9,000,000 (tahun lalu)

Menggunakan data ini, kita dapat menghitung masing-masing indeks dan kemudian menghitung M-Score untuk mendeteksi kemungkinan adanya fraud.

Berdasarkan data yang diberikan, berikut adalah hasil perhitungan M-Score menggunakan Model Beneish:

Indikator dan Perhitungan

  1. Days Sales in Receivable Index (DSRI):

    DSRI=50,000,0001,200,000,00045,000,0001,000,000,000=0.9259
  2. Gross Margin Index (GMI):

    GMI=1,000,000,000700,000,0001,000,000,0001,200,000,000800,000,0001,200,000,000=1.0417
  3. Asset Quality Index (AQI):

    AQI=1300,000,000+500,000,0001,000,000,0001250,000,000+450,000,000900,000,000=1.1111
  4. Sales Growth Index (SGI):

    SGI=1,200,000,0001,000,000,000=1.2
  5. Depreciation Index (DEPI):

    DEPI=45,000,00045,000,000+450,000,00050,000,00050,000,000+500,000,000=1.0
  6. Sales, General and Administrative Expenses Index (SGAI):

    SGAI=100,000,0001,200,000,00090,000,0001,000,000,000=0.9259
  7. Leverage Index (LVGI):

    LVGI=200,000,000+150,000,0001,000,000,000180,000,000+130,000,000900,000,000=1.0
  8. Total Accruals to Total Assets (TATA):

    TATA=(100,000,00090,000,000)(50,000,00045,000,000)+(20,000,00018,000,000)+(10,000,0009,000,000)50,000,0001,000,000,000=0.065

Perhitungan M-Score

MScore=4.84+(0.92×0.9259)+(0.528×1.0417)+(0.404×1.1111)+(0.892×1.2)+(0.115×1.0)(0.172×0.9259)+(4.679×0.065)(0.327×1.0)

Setelah menghitung, nilai M-Score yang diperoleh adalah:

MScore=2.652

Interpretasi

  • M-Score < -2.22: Tidak ada indikasi kuat adanya manipulasi laporan keuangan.
  • M-Score > -2.22: Ada indikasi kuat adanya manipulasi laporan keuangan.

Dengan M-Score sebesar -2.652, tidak ada indikasi kuat bahwa laporan keuangan telah dimanipulasi.


Tuesday, February 11, 2025

Susunan Dalam Satu Naskah UU KUP, PPh, dan PPN berdasarkan UU 6/2023

Susunan Dalam Satu Naskah UU KUP, PPh, dan PPN berdasarkan UU 6/2023.

Isinya sebagian besar ada di UU Nomor 7 Tahun 2021 karena mekanismenya adalah mengubah bukan mengganti atau mencabut.

Sunday, February 02, 2025

5 Layer Test Uji Deemed Deviden

 Tabel 5-Layer Test 


Layer Indikator Penjelasan Teori yang Relevan Risiko Deemed Dividend Ambang Batas Rumus

1 Dividend Payout Ratio (DPR) Rasio pembagian dividen terhadap laba bersih. DPR rendah dapat menunjukkan laba ditahan. Bird in the Hand Theory (Gordon & Lintner), Signaling Theory (Miller & Modigliani) DPR rendah mengindikasikan bahwa laba seharusnya dibagikan sebagai dividen tetapi ditahan. Ambang Batas: < 30% (untuk perusahaan yang sehat) DPR = (Dividen yang dibagikan / Laba Bersih) × 100%

2 Retained Earnings to Equity Ratio (RE/E) Proporsi laba ditahan terhadap total ekuitas. RE/E tinggi berarti laba ditahan lebih banyak dibandingkan dengan ekuitas. Life-Cycle Theory (Fama & French), Agency Theory (Jensen & Meckling) RE/E tinggi mengindikasikan perusahaan menahan laba secara berlebihan, berisiko dianggap sebagai deemed dividend. Ambang Batas: > 50% RE/E = (Laba Ditahan / Ekuitas) × 100%

3 Retained Earnings Growth (RE Growth) Tingkat pertumbuhan laba ditahan dari waktu ke waktu. Pertumbuhan yang signifikan tanpa distribusi dividen bisa mencerminkan penahanan laba. Internal Growth Theory (Modigliani & Miller), Investment Decision Theory (Myers & Majluf) RE Growth tinggi tanpa distribusi dividen dapat menunjukkan bahwa laba ditahan berlebihan, yang mungkin dianggap sebagai deemed dividend. Ambang Batas: > 10% per tahun RE Growth = (RE tahun ini - RE tahun lalu) / RE tahun lalu × 100%

4 Cash Flow to Net Income Ratio (CF/NI) Rasio kas operasional terhadap laba bersih. CF/NI yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki cukup kas tetapi memilih untuk menahan laba. Liquidity Theory (Miller & Modigliani), Cash Management Theory (Lynch & Pyles) CF/NI tinggi menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar dividen, namun jika tidak dibagikan, ini dapat dianggap sebagai deemed dividend. Ambang Batas: > 1,0 CF/NI = (Arus Kas Operasional / Laba Bersih)

5 Debt to Equity (D/E) Perbandingan antara utang dan ekuitas. D/E rendah menunjukkan perusahaan tidak terlalu bergantung pada utang dan memiliki fleksibilitas untuk menahan laba. Modigliani & Miller's Theory (MM), Trade-Off Theory (Kraus & Litzenberger) D/E rendah menunjukkan perusahaan memiliki struktur modal yang kuat dan lebih bebas menahan laba, yang berpotensi dianggap sebagai deemed dividend. Ambang Batas: < 1,0 D/E = (Utang Total / Ekuitas)

Penjelasan Tambahan:

Dividend Payout Ratio (DPR):

Ambang Batas: < 30% untuk perusahaan yang sehat, yang menunjukkan bahwa perusahaan lebih suka menahan sebagian besar labanya untuk pertumbuhan atau tujuan lain.

Rumus: DPR dihitung dengan membandingkan dividen yang dibagikan dengan laba bersih, yang memberikan gambaran seberapa besar laba yang dibagi kepada pemegang saham.

Retained Earnings to Equity Ratio (RE/E):


Ambang Batas: > 50%, yang menunjukkan bahwa perusahaan lebih banyak menahan laba daripada membagikan dividen. Angka ini menunjukkan kecenderungan untuk mempertahankan laba daripada mendistribusikannya.

Rumus: Rasio ini dihitung dengan membandingkan laba ditahan dengan total ekuitas untuk menilai proporsi laba yang tidak dibagikan.

Retained Earnings Growth (RE Growth):

Ambang Batas: > 10% per tahun, yang menunjukkan pertumbuhan laba ditahan yang signifikan tanpa pembagian dividen.

Rumus: Menghitung perubahan laba ditahan dari tahun sebelumnya, menunjukkan sejauh mana laba ditahan berkembang seiring waktu.

Cash Flow to Net Income Ratio (CF/NI):

Ambang Batas: > 1,0, yang menunjukkan bahwa arus kas operasional lebih besar daripada laba bersih, memberi perusahaan cukup dana untuk membayar dividen, namun tidak melakukannya.

Rumus: Dihitung dengan membandingkan arus kas operasional dengan laba bersih untuk mengukur sejauh mana laba yang dilaporkan dapat diubah menjadi kas yang tersedia.

Debt to Equity (D/E):

Ambang Batas: < 1,0, yang menunjukkan bahwa perusahaan lebih bergantung pada ekuitas daripada utang, memberikan fleksibilitas lebih dalam keputusan pembagian dividen.

Rumus: Rasio ini dihitung dengan membandingkan total utang dengan total ekuitas, menggambarkan sejauh mana perusahaan menggunakan utang untuk membiayai operasinya.



Tuesday, January 28, 2025

Formulasi Sintesis TP, ABC dan GA

Berikut adalah contoh **rumus dan perhitungan** berdasarkan integrasi **Akuntansi Geospasial (GA)**, **Activity-Based Costing (ABC)**, dan **Transfer Pricing (TP)** menggunakan data dummy untuk ilustrasi:

1. Data Dummy untuk Simulasi

1. Data Dummy untuk Simulasi*

- Lokasi Produksi:  

  - Wilayah A (Negara X): Biaya logistik = $5/unit, Pajak = 10%.  

  - Wilayah B (Negara Y): Biaya logistik = $8/unit, Pajak = 15%.  

B. Data Aktivitas (ABC)

- Biaya Overhead: $50,000 (terdiri dari 3 aktivitas):  

  1. Setup Mesin: $20,000 (Cost Driver: Jam setup = 200 jam).  

  2. Kontrol Mutu: $15,000 (Penggerak Biaya: Jumlah inspeksi = 150 kali).  

  3. Distribusi: $15,000 (Cost Driver: Jumlah unit = 1,500 unit).  


- Produk:  

  - Produk Alpha: Konsumsi aktivitas = 50 jam setup, 30 inspeksi, 500 unit.  

C. Parameter Harga Transfer (TP)

- Metode: Biaya Plus dengan markup 20%.  

- **Biaya Produksi Langsung**: $30/unit (bahan baku + tenaga kerja).  


-2. Rumus dan Perhitungan

A. Akuntansi Geospasial (GA)

Rumus Total Biaya per Unit (Lokasi Spesifik):  

{Total Biaya/Unit} = ({Biaya Produksi} + {Biaya Logistik}) \times (1 +{Pajak})

Contoh Perhitungan di Wilayah A (Negara X):  

{Total Biaya/Unit} = ($30 + \$5) \times 1,10 = \$35 \times 1,10 = \$38,50/{unit}

Perhitungan di Wilayah B (Negara Y):  

{Total Biaya/Unit} = ($30 + \$8) \times 1,15 = $38 \times 1,15 = \$43,70/{unit}


B. Biaya perhitungan Berdasarkan Aktivitas (ABC)

Langkah 1: Hitung Tarif Aktivitas

1. Setup Mesin:  

{Pengaturan Tarif} = \frac{\$20.000}{200 \{ jam}} = \$100/\{jam}

2. Kontrol Kualitas:  

{Tarif Inspeksi} = \frac{\$15,000}{150 \{ inspeksi}} = \$100/\{inspeksi}

3. Distribusi:  

\text{Tarif Distribusi} = \frac{\$15.000}{1.500 \text{ unit}} = \$10/\text{unit]

Langkah 2: Alokasikan Biaya ke Produk Alpha

1. Biaya Setup:  

50 \teks{ selai} \kali \$100 = \$5.000

2. Biaya Quality Control:  

30 \text{ inspeksi} \times \$100 = \$3,00

3. Biaya Distribusi:  

500 \teks{satuan} \kali \$10 = \$5.000

Total Biaya Overhead untuk Produk Alpha:  

\$5.000 + \$3.000 + \$5.000 = \$13.000

Biaya Overhead per Unit (500 unit):  

\frac{\$13.000}{500} = \$26/\teks{satuan}

C. Penetapan Harga Transfer (Metode Biaya Plus)

Rumus Harga Transfer:  

\text{Harga Transfer} = (\text{Biaya Produksi Langsung} + \text{Biaya Overhead/Unit}) \times (1 + \text{Markup}) + \text{Biaya Logistik (GA)}

Contoh Perhitungan untuk Wilayah A:  

1. Biaya Total/Satuan (ABC + GA): 

\$30 \text{ (langsung)} + \$26 \text{ (overhead)} + \$5 \text{ (logistik)} = \$61/\text{unit}

2. Markup 20%:  

\$61 \kali 1,20 = \$73,20/\teks{satuan}

3. Penyesuaian Pajak (10%):  

\$73,20 \kali 1,10 = \$80,52/\teks{satuan}

Harga Transfer Akhir: \$80,52/unit.  

3. Integrasi GA + ABC + TP

Contoh Kasus: Perusahaan di Wilayah A menjual ke Wilayah B.  

1. Biaya Produksi + Overhead (ABC):  

$30 + $26 = $56/\teks{satuan}

2. Biaya Logistik (GA) :  

\$5/\teks{unit (Wilayah A)} → \$8/\teks{unit (Wilayah B)}

3. Harga Transfer dengan Markup 20%:  

(\$56 + \$8) \kali 1,20 = \$64 \kali 1,20 = \$76,80/\teks{satuan]

4. Penyesuaian Pajak (Wilayah B: 15%):  

\$76,80 \kali 1,15 = \$88,32/\teks{satuan}

Harga Akhir Transfer ke Wilayah B: \$88,32/unit.  

4. Rumus untuk Metode Lain

A. TNMM (Metode Margin Bersih Transaksional)

**Rumus Margin Laba Bersih**:  

\text{Margin Laba} = \frac{\text{Laba Bersih}}{\text{Total Biaya}} \times 100\%


**Konten**:  

- Total Biaya (ABC + GA) = \$61/unit.  

- Harga Jual Pasar = \$90/unit.  

- Laba Bersih = \$90 - \$61 = \$29.  

- Margin = \(\frac{29}{61} \kali 100\% = 47,5\%\).  

B. Metode CUP (Comparable Uncontrolled Price)

Rumus Harga Transfer:  

{Harga Transfer} = {Harga Pasar Terbuka} \pm \{Penyesuaian Geospasial (GA)}

Konten:  

- Harga pasar produk serupa di Wilayah B = \$85/unit.  

- Penyesuaian biaya logistik (GA): \(+\$3/\text{unit}\).  

- Harga Transfer = \$85 + \$3 = \$88/unit.  

5. Tabel Sintesis Rumus\

| **Komponen** | **Rumus** | **Contoh Hasil** |  

|-------|----------------------------------------- ---------------------------------- | -----------------------|  

| **GA (Biaya/Satuan)** | \((\text{Biaya Produksi} + \text{Logistik}) \times (1 + \text{Pajak})\) | \$38,50 (Wilayah A) |  

| **ABC (Overhead)** | \(\frac{\text{Total Biaya Aktivitas}}{\text{Cost Driver}}\) | \$26/unit (Produk A) |  

| **TP Cost Plus** | \((\text{Biaya Total} + \text{Markup}) \times (1 + \text{Pajak})\) | \$80.52/unit |  

| **TP TNMM** | \(\frac{\text{Laba Bersih}}{\text{Total Biaya}} \times 100\%\) | 47.5% Margin |  

Kesimpulan

Integrasi GA (lokasi), ABC (aktivitas), dan TP (harga) menghasilkan perhitungan yang akurat untuk perusahaan multinasional. Dengan data dummy di atas, perusahaan dapat menentukan harga transfer yang wajar, memenuhi standar OECD.

Monday, January 27, 2025

Potensi, Target Potensi dan Realisasi

Dalam kinerja, lebih baik menentukan potensi menjadi target dan memperoleh realisasi. Berikut adalah alasan-alasannya:

1. Mengidentifikasi kemampuan : Menentukan potensi terlebih dahulu membantu mengidentifikasi kemampuan dan kekuatan yang dimiliki. Dengan demikian, target yang ditetapkan dapat lebih realistis dan sesuai dengan kemampuan.

2. Mengoptimalkan sumber daya: Menentukan potensi terlebih dahulu membantu mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki. Dengan demikian, target yang ditetapkan dapat lebih efektif dan efisien.

3. Mengurangi risiko: Menentukan potensi terlebih dahulu membantu mengurangi risiko kegagalan. Dengan demikian, target yang ditetapkan dapat lebih aman dan lebih mudah dicapai.

4. Meningkatkan motivasi: Menentukan potensi terlebih dahulu membantu meningkatkan motivasi dan semangat. Dengan demikian, target yang ditetapkan dapat lebih menarik dan lebih mudah dicapai.

Sementara itu, menentukan target lalu memperoleh realisasi dapat memiliki beberapa kelemahan, seperti:

1. Target yang tidak realistis: Target yang ditetapkan tanpa mempertimbangkan potensi dapat tidak realistis dan sulit dicapai.

2. Sumber daya yang tidak efektif: Target yang ditetapkan tanpa mempertimbangkan potensi dapat menyebabkan sumber daya yang tidak efektif dan tidak efisien.

3. Risiko kegagalan yang lebih tinggi: Target yang ditetapkan tanpa mempertimbangkan potensi dapat memiliki risiko kegagalan yang lebih tinggi.

Dengan demikian, menentukan potensi menjadi target dan memperoleh realisasi adalah pendekatan yang lebih baik dalam kinerja.

Sunday, January 26, 2025

 Berikut adalah rumus yang menghubungkan **Transfer Pricing (TP)**, **Geospatial Accounting (GA)**, dan **Activity-Based Costing (ABC)** dengan pendekatan yang sistematis:


---


### **1. Rumus Dasar Transfer Pricing (TP)**

\[

TP = C + M

\]

Di mana:

- **C** = Total biaya (Cost) produksi dan distribusi yang dihitung berdasarkan metode **ABC (Activity-Based Costing)**.

- **M** = Mark-up atau margin keuntungan sesuai kebijakan perusahaan atau regulasi pajak internasional.


Dalam konteks **GA (Geospatial Accounting)**, biaya (C) dapat dimodifikasi dengan mempertimbangkan faktor lokasi seperti data geospasial, risiko, dan sumber daya.


---


### **2. Integrasi ABC ke dalam Transfer Pricing**

**Activity-Based Costing (ABC)** digunakan untuk menghitung biaya aktivitas di lokasi tertentu, dengan rumus:

\[

C = \sum \left( \text{Biaya Per Aktivitas} \times \text{Volume Aktivitas} \right)

\]


Ketika faktor geospasial dipertimbangkan:

\[

C_{GA} = \sum \left( (D \times G \times T) \div (E + S + R + C) \right)

\]


Di mana:

- **D** = Data geospasial (lokasi, jarak, luas, dll.)

- **G** = Aktivitas geospasial (transportasi, produksi, penyimpanan, dll.)

- **T** = Teknologi geospasial (GIS, GPS, remote sensing, dll.)

- **E** = Ekonomi geospasial (biaya, pendapatan, keuntungan, dll.)

- **S** = Sumber daya geospasial (tanah, air, udara, dll.)

- **R** = Risiko geospasial (bencana alam, perubahan iklim, dll.)

- **C** = Konteks geospasial (politik, regulasi, sosial, dll.)


---


### **3. Rumus Gabungan TP, GA, dan ABC**

Integrasi TP, GA, dan ABC dapat dirumuskan sebagai berikut:


\[

TP = \left( \frac{\sum (D \times G \times T)}{\sum (E + S + R + C)} \right) + M

\]


#### **Penjelasan Rumus:**

1. **Komponen Biaya (C):** 

   - Biaya dihitung menggunakan pendekatan ABC yang berbasis lokasi dengan memanfaatkan komponen geospasial dari GA.

   - \( D \times G \times T \) adalah kontribusi positif dari data, aktivitas, dan teknologi geospasial.

   - \( E + S + R + C \) adalah faktor pembagi yang mencerminkan biaya ekonomi, sumber daya, risiko, dan konteks geospasial.


2. **Komponen Mark-up (M):**

   - Margin keuntungan disesuaikan dengan regulasi perpajakan atau strategi perusahaan.


---


### **4. Contoh Aplikasi:**

#### **Kasus Logistik Multinasional**

- **GA:** Data lokasi digunakan untuk menganalisis jarak distribusi dan risiko transportasi. Contohnya, pengiriman antar negara dengan biaya berbeda berdasarkan jarak dan risiko geografis.

- **ABC:** Menghitung biaya transportasi, pergudangan, dan operasional berdasarkan aktivitas spesifik.

- **TP:** Harga transfer dihitung dengan mempertimbangkan biaya yang dihasilkan dari ABC berbasis lokasi, ditambah margin keuntungan.


\[

TP = \left( \frac{(10 \times 50 \times 5)}{(100 + 20 + 30 + 10)} \right) + 15

\]

Hasilnya adalah harga transfer yang adil dan transparan, berdasarkan data lokasi dan aktivitas aktual.


#### **Kasus Produksi di Beberapa Lokasi**

- Pabrik di lokasi A memiliki risiko tinggi (\(R\)) akibat bencana alam, sehingga memengaruhi biaya transfer.

- **GA:** Memasukkan risiko ke dalam perhitungan biaya.

- **ABC:** Mengalokasikan biaya aktivitas, seperti penggunaan energi dan transportasi.


Bahasa Indonesia:

TP = \left( \frac{\sum (\text{Aktivitas di Lokasi A})}{\text{Faktor Risiko di Lokasi A}} \right) + M

[Bahasa Indonesia]

Kesimpulan:

- Rumus ini menggabungkan:

  - **TP (Transfer Pricing):** Penentuan harga transfer antar lokasi atau entitas.

  - **ABC (Activity-Based Costing):** Alokasi biaya berdasarkan aktivitas spesifik.

  - **GA (Akuntansi Geospasial):** Mempertimbangkan dampak lokasi geografis terhadap biaya dan risiko.

Saturday, January 25, 2025

Dasar Teori GA, ABC dan TP

Rumus-rumus yang saya berikan sebelumnya berdasarkan pada beberapa teori dan konsep yang dikembangkan oleh beberapa peneliti dan ahli di bidang akuntansi, ekonomi, dan keuangan. Berikut adalah beberapa peneliti dan ahli yang berkontribusi pada pengembangan teori dan konsep yang mendasari rumus-rumus tersebut:

Geospatial Accounting (GA)

1. Dr. Robert Mugerauer - Pengembang teori Akuntansi Geospasial.

2. Dr. Martin Kornberger - Pengembang teori Akuntansi Geospasial.

Activity-Based Costing (ABC)

1. Dr. Robert Kaplan - Pengembang teori Akuntansi Biaya Berbasis Aktivitas.

2. Dr. Robin Cooper - Pengembang teori Akuntansi Biaya Berbasis Aktivitas.

Transfer Pricing

1. Dr. Paul Samuelson - Pengembang teori Ekonomi Internasional.

2. Dr. William Nordhaus - Pengembang teori Ekonomi Internasional.

Metode CUP (Comparable Uncontrolled Price)

1. Dr. Adam Smith - Pengembang teori Ekonomi Pasar.

2. Dr. David Ricardo - Pengembang teori Ekonomi Pasar.

Metode TNMM (Transactional Net Margin Method)

1. Dr. Ronald Coase - Pengembang teori Ekonomi Transaksi.

2. Dr. Oliver Williamson - Pengembang teori Ekonomi Transaksi.

Metode Cost Plus

1. Dr. Robert Kaplan - Pengembang teori Akuntansi Biaya.

2. Dr. Robin Cooper - Pengembang teori Akuntansi Biaya.

Metode RPM (Resale Price Method)

1. Dr. Adam Smith - Pengembang teori Ekonomi Pasar.

2. Dr. David Ricardo - Pengembang teori Ekonomi Pasar.

Rumus-rumus tersebut juga berdasarkan pada beberapa standar dan pedoman yang diterbitkan oleh organisasi-organisasi internasional, seperti OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) dan IASB (International Accounting Standards Board).

harga transfer pricing dengan masing masing metode cup tnmm cost plus dan rpm bagaima a dengan geospatial acvounting dan abc

Perhitungan harga transfer pricing menggunakan berbagai metode dan mempertimbangkan faktor Geospatial Accounting (GA) dan Activity-Based Costing (ABC) berdasarkan teori yang mendasarinya:

Tahun 1 vs Tahun 2

Perbandingan harga transfer pricing antara dua tahun laporan keuangan menggunakan empat metode yang berbeda:

Metode Tahun 1 (Rp) Tahun 2 (Rp)
CUP (Comparable Uncontrolled Price) 1.557.000 1.632.000
TNMM (Transactional Net Margin Method) 2.044.500 2.163.000
Cost Plus 1.220.000 1.280.000
RPM (Resale Price Method) 1.837.500 1.923.000

Analisis Kenaikan Harga Transfer Pricing:

  • Semua metode menunjukkan harga transfer yang lebih tinggi pada Tahun 2 dibandingkan Tahun 1.
  • Faktor-faktor yang memengaruhi kenaikan harga termasuk:
    • Kenaikan biaya produksi dan biaya aktivitas: Biaya untuk produksi, transportasi, dan penyimpanan mungkin meningkat pada Tahun 2.
    • Perubahan harga jual di pasar terbuka: Pasar terbuka mungkin mengalami inflasi atau perubahan dalam penawaran dan permintaan.
    • Perubahan diskon dan markup: Penyesuaian pada margin atau markup dapat memengaruhi harga transfer.

Contoh Perhitungan Harga Transfer Pricing untuk Tahun 2

Berikut adalah contoh detil perhitungan harga transfer untuk masing-masing metode yang melibatkan GA dan ABC:


1. Metode CUP (Comparable Uncontrolled Price)

Langkah-langkah perhitungan:

  • Harga Jual di Pasar Terbuka: Rp 1.400.000
  • Geospatial Accounting (GA): 10% (untuk biaya transportasi dan penyimpanan)
    • Biaya Transportasi: Rp 60.000
    • Biaya Penyimpanan: Rp 25.000
    • Total GA: Rp 85.000
  • Activity-Based Costing (ABC): 15% (biaya aktivitas)
    • Biaya Aktivitas: Rp 175.000

Rumus: Harga Transfer=Harga Jual di Pasar Terbuka×(1+GA)×(1+ABC)\text{Harga Transfer} = \text{Harga Jual di Pasar Terbuka} \times (1 + GA) \times (1 + ABC) Harga Transfer=1.400.000×(1+0,10)×(1+0,15)\text{Harga Transfer} = 1.400.000 \times (1 + 0,10) \times (1 + 0,15) Harga Transfer=1.632.000\text{Harga Transfer} = 1.632.000


2. Metode TNMM (Transactional Net Margin Method)

Langkah-langkah perhitungan:

  • Harga Jual di Pasar Terbuka: Rp 1.400.000
  • Margin Neto Transaksi: 25% (margin neto pada transaksi)
    • Margin Neto: Rp 350.000
  • Geospatial Accounting (GA): 10%
    • Total GA: Rp 85.000
  • Activity-Based Costing (ABC): 15%
    • Biaya Aktivitas: Rp 175.000

Rumus: Harga Transfer=Harga Jual di Pasar Terbuka×(1+Margin Neto)×(1+GA)×(1+ABC)\text{Harga Transfer} = \text{Harga Jual di Pasar Terbuka} \times (1 + \text{Margin Neto}) \times (1 + GA) \times (1 + ABC) Harga Transfer=1.400.000×(1+0,25)×(1+0,10)×(1+0,15)\text{Harga Transfer} = 1.400.000 \times (1 + 0,25) \times (1 + 0,10) \times (1 + 0,15) Harga Transfer=2.163.000\text{Harga Transfer} = 2.163.000


3. Metode Cost Plus

Langkah-langkah perhitungan:

  • Biaya Produksi: Rp 900.000
  • Markup: 25%
    • Markup: Rp 225.000
  • Geospatial Accounting (GA): 10%
    • Total GA: Rp 85.000
  • Activity-Based Costing (ABC): 15%
    • Biaya Aktivitas: Rp 175.000

Rumus: Harga Transfer=Biaya Produksi+Markup+GA+ABC\text{Harga Transfer} = \text{Biaya Produksi} + \text{Markup} + GA + ABC Harga Transfer=900.000+225.000+85.000+175.000\text{Harga Transfer} = 900.000 + 225.000 + 85.000 + 175.000 Harga Transfer=1.385.000\text{Harga Transfer} = 1.385.000


4. Metode RPM (Resale Price Method)

Langkah-langkah perhitungan:

  • Harga Jual di Tingkat Penjualan Ulang: Rp 1.600.000
  • Diskon: 10%
    • Diskon: Rp 160.000
  • Geospatial Accounting (GA): 10%

Untuk perhitungan lengkapnya, kita perlu memperhitungkan faktor GA dan ABC yang diintegrasikan dengan harga jual setelah diskon.


Dasar Teori yang Mendasari Rumus

  • Geospatial Accounting (GA): Konsep ini dikembangkan oleh Dr. Robert Mugerauer dan Dr. Martin Kornberger. GA memasukkan faktor-faktor geospasial dalam perhitungan akuntansi untuk mencakup biaya transportasi dan penyimpanan yang dipengaruhi oleh lokasi geografis.
  • Activity-Based Costing (ABC): Teori ini dikembangkan oleh Dr. Robert Kaplan dan Dr. Robin Cooper, yang memperkenalkan metode alokasi biaya berdasarkan aktivitas yang terjadi selama proses produksi dan distribusi.
  • Transfer Pricing: Diperkenalkan oleh Dr. Paul Samuelson dan Dr. William Nordhaus, dengan menggabungkan prinsip ekonomi internasional untuk menentukan harga yang tepat antar perusahaan yang terkait.


Hubungan Geospasial Accounting, ABC dan Transfer Pricing

Hubungan antara akuntansi geospasial, teori ABC (Activity-Based Costing), dan transfer pricing adalah sebagai berikut:

Akuntansi Geospasial : Akuntansi geospasial adalah suatu pendekatan akuntansi yang mempertimbangkan faktor-faktor geospasial, seperti lokasi, jarak, dan batas informasi wilayah, dalam pengukuran dan pelaporan akuntansi.

Teori ABC (Activity-Based Costing) : Teori ABC adalah suatu pendekatan akuntansi yang berfokus pada pengukuran biaya berdasarkan aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam suatu organisasi. Teori ABC membagi biaya menjadi dua kategori, yaitu biaya langsung dan biaya tidak langsung.

Harga Transfer : Transfer pricing adalah suatu proses penentuan harga atau ketidakseimbangan untuk transaksi antara perusahaan yang terkait, seperti antara perusahaan induk dan anak perusahaan. Hubungan Antara Akuntansi Geospasial, Teori ABC, dan Transfer Pricing

1. Pengukuran Biaya: Akuntansi geospasial dan teori ABC dapat digunakan untuk mengukur biaya yang terkait dengan transaksi transfer pricing. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor geospasial dan aktivitas-aktivitas yang dilakukan, perusahaan dapat mengukur biaya yang lebih akurat dan relevan.

2. Penentuan Harga: Teori ABC dapat digunakan untuk menentukan harga atau ketidakseimbangan untuk transaksi transfer pricing. Dengan membagi biaya menjadi biaya langsung dan biaya tidak langsung, perusahaan dapat menentukan harga yang lebih akurat dan relevan.

3. Analisis Risiko: Akuntansi geospasial dapat digunakan untuk menganalisis risiko yang terkait dengan transaksi transfer pricing. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor geospasial, perusahaan dapat menganalisis risiko yang lebih akurat dan relevan.

4. Pengelolaan Data: Akuntansi geospasial dan teori ABC memerlukan pengelolaan data yang lebih kompleks dan akurat. Dengan menggunakan teknologi informasi yang lebih canggih, perusahaan dapat mengelola data yang lebih akurat dan relevan untuk keperluan transfer pricing.

Akuntansi geospasial, teori ABC, dan transfer pricing memiliki hubungan yang erat dalam pengukuran biaya, penentuan harga, analisis risiko, dan pengelolaan data. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor geospasial dan aktivitas-aktivitas yang dilakukan, perusahaan dapat mengukur biaya yang lebih akurat dan relevan, menentukan harga yang lebih akurat dan relevan, menganalisis risiko yang lebih akurat dan relevan, dan mengelola data yang lebih akurat dan relevan untuk keperluan transfer penetapan harga.

Mission Is DONE, Asset Will Be Back

Mission Is DONE, Asset Will Be Back.