Overbroad Consent itu rumit...
Menyerahkan itu beda menyampaikan, menunjukkan atau memberikan .....dst....
Atau
bersedia .......sepanjang relevan dengan......
Di KUHP ada primary, secondary dan tersiery
Eko Susilo, S.T, M.A.P. Berusaha untuk tahu tentang ilmu adalah baik. Anggota IAI, (Anggota IRMAPA/GRC (Indonesia Risk Management Professional Association-Governance, Risk, Compliance), Anggota IAMI (Institut Akuntan Manajemen Indonesia, Anggota ISI (Ikatan Surveyor Indonesia) : tulisannya : apa aja dalam Catatanku ini Seluruh data kasus, skema, dan simulasi yang digunakan di-dummy kan (rahasia soalnya Guys) dan bersifat dummy Damodar N.Gujarati dan disusun untuk tujuan penelitian.
Overbroad Consent itu rumit...
Menyerahkan itu beda menyampaikan, menunjukkan atau memberikan .....dst....
Atau
bersedia .......sepanjang relevan dengan......
Di KUHP ada primary, secondary dan tersiery
Dengan demikian, pembukuan harus diselenggarakan dengan cara atau sistem yang lazim dipakai di Indonesia, misalnya berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, kecuali peraturan perundang-undang perpajakan menentukan lain.
Stagnan tidak mengubah itu kadang lebih baik, jika perubahan itu tidak berdasar karena akan menimbulkan ketidaksesuian.
Pettanyaan dasar :
1. Kenapa berubah?.
2. Alasannya apa berubah?.
3. Apa dasar untuk berubah?
4. Apakah relevan berubah?.
5. Apakah berubah akan mengubah sesuatu ataukah hanya pergeseran tidak signifikan?.
6. Apakah perubahan itu diharuskan?
7. Apakah perubahan itu hanya kamuflase?.
Konteks gagasan basis pengalaman dan rasa.
Akan saya buat dalam buku dalam Trilogi era 2002-2012, 2012-2022 dan in the future.
Gerakan Nasional Membayar Pajak
Sumbangan apakah merupakan pengjasilan?.
Bantuan atau sumbangan dari pemerintah → dikecualikan dari objek pajak.
Lalu di lapkeu bagaimana?.
Dipisah..dan dikoreksi fiskal. Oleh siapa?.
Wajib Pajak.
Jadi laporan keuangan ada berapa?. Ada 2 yaitu lapkeu komersial dan lapkeu fiskal.
Jika sudah disampaikan maka dilakukan koreksi fiskal lagi sesuai dengan ketentuan perpajakan jika belum sesuai.
Lalu :
Diatur oleh siapa?. Menteri...seperti di Menteri Koperasi dan UMKM soal Koperasi
Tujuannya ? : efisiensi dan fokus di akun pada pos posnya.
Penggunaan Lokasi Berbasis IP (IP Geolocation)
Ini adalah penyebab paling sering. Saat sinyal satelit GPS lemah (misalnya di dalam ruangan/rumah), ponsel atau GPS tracker Anda akan beralih menggunakan internet (Wi-Fi/Data Seluler) untuk menentukan lokasi.
Masalah: Lokasi ditentukan berdasarkan IP Address yang didaftarkan oleh penyedia layanan internet (ISP). Kadang, ISP mengarahkan trafik internet Anda melalui server utama mereka yang berada di kota lain ..dimana saja lokasi server provider berada.
(Paham ya....tentu paham bagi yang ngerti).
Akibat: Google Maps/aplikasi pelacak mengira Anda berada di lokasi server ISP tersebut.
Akan berpengaruh pada lokasi Gojek. Itu relatif merugikan diri sendiri dan atau memang pergeseran lokasi dampak "perang".
E-comerce dan banking itu menggunakan aapek Geolocation termasuGeofenxongk Pajak. Nah...
Bagaimana bisa ada Fake GPS?.
Kecuali untuk orang jahat dengan kejahatannya?.
Jadi uji fraud menggunakan Fake GPS itu harus hati-hati.
sinkronisasi antara detak jantung ekonomi dengan napas birokrasi.
Lokadi ada di wilayah ekonomi tumbuh dan buksn dasar birokrasinya tapi birikrasi mengikuti jantung ekonomi.. (Kabupaten).
Kenapa kalau di search nama Eko Susilo tidak banyak muncul?.
Itu karena saya setting demikian. Karena di Eropa ada aplikasi Blue yang bisa mengunvi logical boolean bagi saya....😃💧😅😆😃😧
2002 : Masuk sebagai CPNS Kemenkeu --Pelaksana
2003 : Magang (OJT) / Penempatan Sementara di KP .DJP Dit Peraturan Perpajakan-Pelaksana
2004 : KP.PBB Singaraja- Pelaksana Pendataan dan Penilaian..3 Kabupaten Wilayah Kerja
2005 : KP.PBB Singaraja-Koordinator Pelaksana TUPP....3 Kabupaten Wilayah Kerja
2006 : KP.PBB Singaraja - Koordinator Pelaksana TUPP....3 Kabupaten Wilayah Kerja
2007 : KP.PBB Singaraja - Koordinator Pelaksana TUPP...3 Kabupaten Wilayah Kerja
2008 : KP. PBB Singaraja -Koordinator Pelaksana TUPP...3 Kabupaten Wilayah Kerja
2009 : KPP Pratama Denpasar Barat - Account Representative..2 Desa di Kecamatan
2010 : KPP Pratama Denpasar Barat - Account Representative...2 Desa di Kecamatan
2011 : KPP Pratama Denpasar Barat - Account Representative...2 Desa di Kecamatan
2012 : KPP Madya Denpasar - Account Representative...8 Kabupaten Wilayah Kerja
2013 : KPP Pratama Denpasar Timur - Account Representative..3 Desa di 1 Kecamatan
2014 : KPP Pratama Denpasar Timur - Account Representative...3 Desa di 1 Kecamatan
2015 : Kanwil DJP Bali - Penelaah Keberatan..1 Propinsi Bali
2016 : Kanwil DJP Bali - Penelaah Keberatan..1 Propinsi Bali
2017-1 : Kanwil DJP Bali - Penelaah Keberatan..1 Propinsi Bali
2017-2 : Kanwil DJP Jawa Tengah II - Penelaah Keberatan..1 Propinsi Bali
2018 : Kanwil DJP Jawa Tengah II- Penelaah Keberatan...1 Propinsi Bali
2019 : Kanwil DJP Jawa Tengah II- Penelaah Keberatan...1 Propinsi Bali
2020 : Kanwil DJP Jawa Tengah II- Penelaah Keberatan...1 Propinsi Bali
2021 : Kanwil DJP Jawa Tengah II- Penelaah Keberatan...1 Propinsi Bali
2022 : Kanwil DJP Jawa Tengah II- Penelaah Keberatan...1 Propinsi Bali
2023 : Kanwil DJP Jawa Tengah II- Penelaah Keberatan...1 Propinsi Bali
2024 : KPP Madya Surakarta- Account Representative....Wilayah Selatan Propinsi Jawa Tengah
2025 : KPP Pratama Boyolali- Account Representative....1 Kabupaten, 5 Desa
Cash Settlement Ratio of Tax Liabilities (CSR-TL) adalah rasio yang dikembangkan dalam penelitian ini yang mengukur perbandingan antara pembayaran pajak berbasis kas dengan saldo utang pajak yang tercatat dalam neraca. Rasio ini digunakan untuk menilai efektivitas serta perilaku pelunasan kewajiban pajak oleh Wajib Pajak, yang tidak tercermin dalam rasio likuiditas konvensional.
Tidak ditemukan dalam:
PSAK / IFRS
Literatur standar seperti Kieso, Weygandt
Rasio keuangan klasik (liquidity, solvency, activity, profitability)
Rekonstruksi ke :
Tax / Total Liabilities
Tax / Asset Growth
Rasio-rasio dalam penelitian ini merupakan hasil rekonstruksi yang dikembangkan dari konsep dasar laporan keuangan (aset, liabilitas, dan arus kas) serta teori kepatuhan pajak. Rasio ini tidak ditemukan secara eksplisit dalam IFRS/PSAK maupun ketentuan perpajakan, namun disusun untuk mengisi kekosongan dalam pengukuran perilaku pembayaran pajak (tax payment behavior) yang belum terakomodasi dalam rasio keuangan konvensional.
Uji pada kontribusi dan kewajiban (neraca).
Implementasi uji pada angsuran PPh Pasal 25 (kenaikan).
Data : publish media (idx)
Dummy...nama
Disclaimer :
Eko Susilo-Anggota IAMI Madya dan Anggota IAI Muda.
Ketidaksetujuan terhadap aturan atau krbijakan tidak boleh diwujudkan dengan tindakan di luar hukum atau kebijakan itu sendiri.
Jalur yang benar:
A. gagasan / kritik
B. perbaikan norma
C. Uji materi
Karena kalau tidak: ➡️ bisa masuk kategori melawan hukum (onrechtmatige daad / unlawful conduct) dalam konteks administrasi.
Mengerti ya...oke.
“...tetap berlaku sebagai ketentuan transisi sepanjang diperlukan untuk masa peralihan dan paling lama sampai berakhirnya jangka waktu sebagaimana diatur di Pasal....”
Kalau saya kok begini ya ada exit emergencynya...dalam masa transisi dan bukan dualisme namun "bridge' untuk menuju dan bukan "stop" tapi ambigu.
Norma berakhir karena:
| Unsur uji | Alat ukur | Kriteria lulus | |
|---|---|---|---|
| T (Textual cut-off) | Apakah ada rumusan yang secara tegas menyatakan berakhirnya norma lama? | Lulus jika ada frasa eksplisit seperti “berakhir secara otomatis”, “paling lama sampai”, atau rumusan setara yang mengunci masa transisi. | |
| A (Action independence) | Apakah berhentinya norma lama tidak bergantung pada SK/keputusan tambahan? | Lulus jika berakhir by design, bukan by further action. | |
| W (Time certainty) | Apakah ada batas waktu pasti? | Lulus jika ada jangka waktu yang tegas dan terukur. | |
| L (Norm linkage) | Apakah norma transisi dikaitkan langsung dengan batas waktu? | Lulus jika Pasal transisi secara eksplisit merujuk ke pasal tenggat. | |
| E (Elimination effect) | Apakah setelah masa transisi berakhir, tidak ada residual effect yang menggantung? | Lulus jika efek sisa norma lama dihapus tegas. |
Harus bersyarat :
1. Continuity of Business
2. Continuity of Control
3. Continuity of Assets & Economics
Jadi ujinya tidak asal.
Ada diskontinuitas nyata...harus.!!!
I. KONTRAK BAGI HASIL PERTANIAN (Nama Asli Adat)
|
No |
Nama Asli |
Daerah / Suku |
Jenis Kontrak |
Objek Ekonomi |
Tambahan Kemampuan Ekonomis |
|
1 |
Maro |
Jawa |
Bagi
hasil sawah |
Padi |
Bagian
panen |
|
2 |
Mertelu |
Jawa |
Bagi
hasil sawah |
Padi |
Bagian
panen |
|
3 |
Mrapat |
Jawa |
Bagi
hasil sawah |
Padi |
Bagian
panen |
|
4 |
Paroan |
Jawa |
Bagi
hasil sawah |
Padi |
Bagian
panen |
|
5 |
Bawon |
Sunda /
Jawa Barat |
Bagi
hasil tenaga panen |
Padi |
Gabah |
|
6 |
Tesang |
Bugis
(Sulawesi Selatan) |
Bagi
hasil sawah |
Padi |
Bagian
panen |
|
7 |
Mappalili |
Bugis |
Kerja
tanam bersama dengan pembagian hasil |
Padi |
Panen |
|
8 |
Ma'pare
(bagi hasil kopi) |
Toraja |
Bagi
hasil kebun |
Kopi |
Hasil
kopi |
|
9 |
Penyadap
bagi (karet) |
Sumatera |
Bagi
hasil kebun |
Lateks
karet |
Lateks |
|
10 |
Bagi
hasil pala |
Maluku |
Bagi
hasil kebun |
Pala |
Buah
pala |
II. BAGI HASIL
PERIKANAN (Nama Adat Asli)
|
No |
Nama Asli |
Daerah |
Jenis Kontrak |
Objek Ekonomi |
Tambahan Kemampuan Ekonomis |
|
11 |
Ponggawa
– Sawi |
Bugis /
Makassar |
Bagi
hasil perikanan |
Ikan |
Bagian
tangkapan |
|
12 |
Panglima
Laot |
Aceh |
Pengaturan
dan pembagian hasil laut |
Ikan |
Bagian
hasil |
|
13 |
Mina
bagi |
Jawa
pesisir |
Bagi
hasil nelayan |
Ikan |
Bagian
tangkapan |
|
14 |
Sasi
laut |
Maluku |
Pengaturan
panen laut |
Teripang
/ ikan |
Pendapatan
panen |
|
15 |
Lilifuk |
Rote
(NTT) |
Kolam
laut adat dengan pembagian hasil |
Ikan |
Bagian
tangkapan |
III. BAGI HASIL
TERNAK (Nama Lokal)
|
No |
Nama Asli |
Daerah |
Jenis Kontrak |
Objek Ekonomi |
Tambahan Kemampuan Ekonomis |
|
16 |
Paron
sapi |
Jawa |
Bagi
hasil ternak |
Sapi |
Anak
sapi |
|
17 |
Ngadas
sapi |
Madura |
Bagi
hasil ternak |
Sapi |
Anak
sapi |
|
18 |
Maro
ternak |
Jawa |
Bagi
hasil ternak |
Kambing |
Anak
kambing |
|
19 |
Bagi
hasil kerbau |
Batak |
Bagi
hasil ternak |
Kerbau |
Anak
kerbau |
IV. KONTRAK PENJUALAN
PANEN (Nama Adat Asli)
|
No |
Nama Asli |
Daerah |
Jenis Kontrak |
Objek Ekonomi |
Tambahan Kemampuan Ekonomis |
|
20 |
Tebasan |
Jawa |
Penjualan
panen sebelum panen |
Padi |
Harga
jual |
|
21 |
Ijon |
Jawa |
Penjualan
panen di muka |
Hasil
pertanian |
Uang
muka |
|
22 |
Toke
kebun |
Sumatera |
Pembelian
hasil kebun |
Karet /
kopi |
Pendapatan |
|
23 |
Ponggawa
perdagangan |
Bugis |
Perdagangan
hasil laut |
Ikan |
Pendapatan |
V. SISTEM HAK EKONOMI
KOMUNAL ADAT (Nama Asli)
|
No |
Nama Asli |
Daerah / Suku |
Jenis Kontrak |
Objek Ekonomi |
Tambahan Kemampuan Ekonomis |
|
24 |
Tanah
ulayat |
Minangkabau |
Hak
komunal |
Tanah |
Hasil
kebun |
|
25 |
Ganggam
Bauntuak |
Minangkabau |
Hak
garap ulayat |
Sawah |
Panen |
|
26 |
Tembawang |
Dayak |
Kebun
adat |
Buah /
kayu |
Hasil
kebun |
|
27 |
Hutan
adat |
Dayak |
Pengelolaan
hutan |
Kayu /
damar |
Pendapatan |
|
28 |
Hak
ulayat klan |
Papua |
Hak
tanah klan |
Tanah |
Hasil
kebun |
|
29 |
Dusun
pala |
Maluku |
Kebun
pala adat |
Pala |
Buah
pala |
|
30 |
Dusun
sagu |
Papua |
Kebun
sagu adat |
Sagu |
Tepung
sagu |
VI. KONTRAK JASA
PRODUKSI (Nama Lokal)
|
No |
Nama Asli |
Daerah |
Jenis Kontrak |
Objek Ekonomi |
Tambahan Kemampuan Ekonomis |
|
31 |
Upah
garap |
Jawa |
Jasa
pengolahan sawah |
Sawah |
Upah |
|
32 |
Borongan
panen |
Jawa |
Jasa
panen |
Padi |
Upah |
|
33 |
Sadap
karet |
Sumatera |
Jasa
produksi |
Karet |
Upah |
|
34 |
Giling
padi |
Jawa |
Jasa
penggilingan |
Padi |
Fee |
|
35 |
Olah
sagu |
Papua |
Jasa
produksi |
Sagu |
Upah |
|
36 |
Pengasapan
ikan |
Papua |
Jasa
pengolahan |
Ikan |
Fee |
VII. SISTEM EKONOMI
HUTAN ADAT
|
No |
Nama Asli |
Daerah |
Jenis Kontrak |
Objek Ekonomi |
Tambahan Kemampuan Ekonomis |
|
37 |
Damar
mata kucing |
Lampung |
Pengelolaan
hutan damar |
Damar |
Pendapatan |
|
38 |
Rotan
adat |
Dayak |
Pengambilan
rotan |
Rotan |
Pendapatan |
|
39 |
Gaharu
adat |
Papua |
Pengumpulan
gaharu |
Kayu
gaharu |
Pendapatan |
|
40 |
Madu
hutan sialang |
Riau |
Pengambilan
madu |
Madu |
Pendapatan |
Ringkasan Sistem
Ekonomi Adat (Nama Asli)
|
Jenis Sistem |
Jumlah |
|
Bagi
hasil pertanian |
10 |
|
Bagi
hasil perikanan |
5 |
|
Bagi
hasil ternak |
4 |
|
Penjualan
panen |
4 |
|
Hak
ekonomi komunal |
7 |
|
Jasa
produksi |
6 |
|
Ekonomi
hutan |
4 |
“Padanan dalam
Ekonomi Modern” sehingga setiap praktik adat dapat langsung dibandingkan
dengan konsep kontrak ekonomi modern. Ini penting untuk analisis
akademik maupun perpajakan karena menunjukkan substansi ekonomi di
balik istilah adat.
I. KONTRAK BAGI HASIL
PERTANIAN
|
No |
Nama Asli Adat |
Daerah / Suku |
Jenis Kontrak Adat |
Padanan Ekonomi Modern |
Objek Ekonomi |
Tambahan Kemampuan Ekonomis |
|
1 |
Maro |
Jawa |
Bagi
hasil sawah |
Sharecropping
/ Profit sharing |
Padi |
Bagian
panen |
|
2 |
Mertelu |
Jawa |
Bagi
hasil sawah |
Sharecropping
contract |
Padi |
Bagian
panen |
|
3 |
Mrapat |
Jawa |
Bagi
hasil sawah |
Sharecropping
contract |
Padi |
Bagian
panen |
|
4 |
Paroan |
Jawa |
Bagi
hasil sawah |
Agricultural
profit sharing |
Padi |
Bagian
panen |
|
5 |
Bawon |
Sunda |
Bagi
hasil tenaga panen |
Harvest
wage in kind / profit share |
Padi |
Gabah |
|
6 |
Tesang |
Bugis |
Bagi
hasil sawah |
Sharecropping |
Padi |
Bagian
panen |
|
7 |
Mappalili |
Bugis |
Kerja
tanam bersama |
Agricultural
cooperative production |
Padi |
Panen |
|
8 |
Ma'pare |
Toraja |
Bagi
hasil kebun kopi |
Plantation
profit sharing |
Kopi |
Hasil
kopi |
|
9 |
Penyadap
bagi |
Sumatera |
Bagi
hasil kebun karet |
Plantation
share contract |
Lateks |
Lateks |
|
10 |
Bagi
hasil pala |
Maluku |
Bagi
hasil kebun pala |
Plantation
profit sharing |
Pala |
Buah
pala |
II. BAGI HASIL
PERIKANAN
|
No |
Nama Asli Adat |
Daerah |
Jenis Kontrak Adat |
Padanan Ekonomi Modern |
Objek Ekonomi |
Tambahan Ekonomis |
|
11 |
Ponggawa
– Sawi |
Bugis /
Makassar |
Bagi
hasil perikanan |
Principal–agent
fishing contract |
Ikan |
Bagian
tangkapan |
|
12 |
Panglima
Laot |
Aceh |
Pengaturan
hasil laut |
Community
fishery management |
Ikan |
Bagian
hasil |
|
13 |
Mina
bagi |
Jawa
pesisir |
Bagi
hasil nelayan |
Fishing
profit sharing |
Ikan |
Bagian
tangkapan |
|
14 |
Sasi
laut |
Maluku |
Pengaturan
panen laut |
Resource
management system |
Teripang
/ ikan |
Pendapatan
panen |
|
15 |
Lilifuk |
Rote
NTT |
Kolam
laut adat |
Communal
aquaculture |
Ikan |
Bagian
tangkapan |
III. BAGI HASIL
TERNAK
|
No |
Nama Adat |
Daerah |
Jenis Kontrak Adat |
Padanan Ekonomi Modern |
Objek |
Tambahan Ekonomi |
|
16 |
Paron
sapi |
Jawa |
Bagi
hasil ternak |
Livestock
profit sharing |
Sapi |
Anak
sapi |
|
17 |
Ngadas
sapi |
Madura |
Bagi
hasil ternak |
Livestock
investment partnership |
Sapi |
Anak
sapi |
|
18 |
Maro
ternak |
Jawa |
Bagi
hasil ternak |
Livestock
share contract |
Kambing |
Anak
kambing |
|
19 |
Bagi
hasil kerbau |
Batak |
Bagi
hasil ternak |
Livestock
partnership |
Kerbau |
Anak
kerbau |
IV. KONTRAK PENJUALAN
PANEN
|
No |
Nama Adat |
Daerah |
Jenis Kontrak Adat |
Padanan Ekonomi Modern |
Objek |
Tambahan Ekonomi |
|
20 |
Tebasan |
Jawa |
Penjualan
panen sebelum panen |
Forward
sale contract |
Padi |
Harga
jual |
|
21 |
Ijon |
Jawa |
Penjualan
panen di muka |
Advance
purchase / crop financing |
Hasil
pertanian |
Uang
muka |
|
22 |
Toke
kebun |
Sumatera |
Pembelian
hasil kebun |
Commodity
trader / middleman system |
Karet /
kopi |
Pendapatan |
|
23 |
Ponggawa
perdagangan |
Bugis |
Perdagangan
hasil laut |
Supply
chain principal system |
Ikan |
Pendapatan |
V. SISTEM HAK EKONOMI
KOMUNAL ADAT
|
No |
Nama Adat |
Daerah / Suku |
Jenis Kontrak Adat |
Padanan Ekonomi Modern |
Objek |
Tambahan Ekonomi |
|
24 |
Tanah
ulayat |
Minangkabau |
Hak
komunal |
Communal
land tenure |
Tanah |
Hasil
kebun |
|
25 |
Ganggam
Bauntuak |
Minangkabau |
Hak
garap ulayat |
Use-right
allocation system |
Sawah |
Panen |
|
26 |
Tembawang |
Dayak |
Kebun
adat |
Agroforestry
communal estate |
Buah /
kayu |
Hasil
kebun |
|
27 |
Hutan
adat |
Dayak |
Pengelolaan
hutan |
Community
forest management |
Kayu /
damar |
Pendapatan |
|
28 |
Hak
ulayat klan |
Papua |
Hak
tanah klan |
Clan-based
land ownership |
Tanah |
Hasil
kebun |
|
29 |
Dusun
pala |
Maluku |
Kebun
pala adat |
Traditional
plantation estate |
Pala |
Buah
pala |
|
30 |
Dusun
sagu |
Papua |
Kebun
sagu adat |
Traditional
agro-forest system |
Sagu |
Tepung
sagu |
VI. KONTRAK JASA
PRODUKSI
|
No |
Nama Adat |
Daerah |
Jenis Kontrak Adat |
Padanan Ekonomi Modern |
Objek |
Tambahan Ekonomi |
|
31 |
Upah
garap |
Jawa |
Jasa
pengolahan sawah |
Agricultural
wage labour |
Sawah |
Upah |
|
32 |
Borongan
panen |
Jawa |
Jasa
panen |
Contract
harvesting service |
Padi |
Upah |
|
33 |
Sadap
karet |
Sumatera |
Jasa
produksi |
Plantation
labour contract |
Karet |
Upah |
|
34 |
Giling
padi |
Jawa |
Jasa
penggilingan |
Agro-processing
service |
Padi |
Fee |
|
35 |
Olah
sagu |
Papua |
Jasa
produksi |
Food
processing labour |
Sagu |
Upah |
|
36 |
Pengasapan
ikan |
Papua |
Jasa
pengolahan |
Fish
processing service |
Ikan |
Fee |
VII. SISTEM EKONOMI
HUTAN ADAT
|
No |
Nama Adat |
Daerah |
Jenis Kontrak Adat |
Padanan Ekonomi Modern |
Objek |
Tambahan Ekonomi |
|
37 |
Damar
mata kucing |
Lampung |
Pengelolaan
damar |
Forest
commodity production |
Damar |
Pendapatan |
|
38 |
Rotan
adat |
Dayak |
Pengambilan
rotan |
Forest
commodity harvesting |
Rotan |
Pendapatan |
|
39 |
Gaharu
adat |
Papua |
Pengumpulan
gaharu |
Non-timber
forest product trade |
Kayu
gaharu |
Pendapatan |
|
40 |
Madu
hutan sialang |
Riau |
Pengambilan
madu |
Forest
honey harvesting enterprise |
Madu |
Pendapatan |
Ringkasan Klasifikasi
Ekonomi (Adat vs Modern)
|
Sistem Adat |
Padanan Ekonomi Modern |
|
Bagi
hasil sawah (maro, mertelu) |
Sharecropping
contract |
|
Bagi
hasil nelayan |
Fishing
profit sharing |
|
Bagi
hasil ternak |
Livestock
partnership |
|
Ijon /
tebasan |
Forward
contract / advance purchase |
|
Toke
kebun |
Commodity
trader system |
|
Hak
ulayat |
Communal
land tenure |
|
Tembawang |
Agroforestry
estate |
|
Upah
garap |
Agricultural
wage labour |
|
Borongan
panen |
Contract
farming service |
|
Sasi
laut |
Resource
management regime |
|
Wilayah |
Istilah Adat |
Deskripsi
Ekonomi (Keterangan) |
Implikasi
Pajak (Substansi) |
|
Aceh |
Mawah |
Kerja sama
bagi hasil (ternak atau sawah). Pemilik modal memberi bibit/ternak, pengelola
memberi tenaga. |
PPh Pasal
4(1): Bagi hasil merupakan tambahan kemampuan ekonomis (penghasilan). |
|
Madura |
Nampangi |
Kontrak buruh
tani di mana buruh diizinkan menanam tanaman sela di lahan utama sebagai
imbalan kerja. |
PPh Pasal 21 |
|
Lombok (NTB) |
Sela / Sampi
Gaduh |
Sistem bagi
hasil ternak sapi. Keuntungan dari selisih harga jual atau anak sapi dibagi
dua. |
PPh Pasal
4(1): Keuntungan atas penjualan aset/ternak. |
|
Toraja
(Sulsel) |
Pa'gunturan |
Sistem
pemeliharaan kerbau (khususnya kerbau belang bernilai tinggi) dengan bagi
hasil saat kerbau dijual/disembelih. |
PPh Pasal
4(1): Karena nilai kerbau Toraja bisa mencapai ratusan juta, nilai
ekonomisnya sangat signifikan. |
|
Kalimantan
(Timur) |
GRTT Adat |
Ganti Rugi
Tanam Tumbuh; pembayaran dari perusahaan atas pelepasan hak atas
pohon/tanaman di hutan adat. |
PPh Pasal
4(2) atau 4(1): Tergantung apakah dianggap pengalihan hak tanah atau sekadar
ganti rugi hasil bumi. |
|
No |
Wilayah |
Istilah Adat |
Substansi
Ekonomi |
Objek Pajak
Terkait |
|
1 |
Bali |
Subak |
Iuran
pengelolaan & jasa irigasi |
Natura/Kenikmatan
(PMK 66/2023) |
|
2 |
Jawa |
Maro / Paroan |
Sharecropping (Bagi
hasil panen) |
PPh Pasal
4(1) - Penghasilan Umum |
|
3 |
Jawa |
Kedokan |
Barter jasa
(tenaga kerja vs hasil) |
PPh Pasal
21 |
|
4 |
Sumatera |
Pagang Gadai |
Bunga atas
modal (lewat hasil tanah) |
PPh Pasal
4(1) - Imbalan Bunga |
|
5 |
Sumatera |
Hak Ulayat |
Sewa lahan
komunal / Royalti alam |
PPh Pasal
4(2) - Sewa Tanah |
|
6 |
Kalimantan |
Tanah Adat |
Kompensasi /
Fee pengelolaan |
PPh Pasal
4(1) - Imbalan Jasa |
|
7 |
Sulawesi |
Teseng |
Profit
sharing peternakan |
PPh Pasal
4(1) - Keuntungan Usaha |
|
8 |
Maluku |
Sasi |
Penjualan
hasil panen komunal |
PPh Badan
(jika lewat Lembaga Adat) |
|
9 |
Flores/NTT |
Lingko |
Upeti / Fee
manajemen lahan |
PPh Pasal
4(2) - Sewa |
|
10 |
Papua |
Hak Ulayat |
Pelepasan hak
/ Uang sirih pinang |
PPh Pasal
4(2) - Pengalihan Tanah |
|
11 |
Aceh |
Mawah |
Kerja sama
bagi hasil syariah |
PPh Pasal
4(1) - Bagi Hasil |
|
12 |
Madura |
Nampangi |
Kompensasi
lahan untuk buruh |
PPh Pasal 21
- Kenikmatan (Benefit in-kind) |
|
13 |
Toraja |
Pa'gunturan |
Investasi
aset biologis |
PPh Pasal
4(1) - Capital Gain |
Literatur :
Overbroad Consent itu rumit... Menyerahkan itu beda menyampaikan, menunjukkan atau memberikan .....dst.... Atau bersedia .......sepanjang r...