Ciri orang bertanggung jawab pada satu titik masalah :
menghubungi langsung pada orang yang bermasalah, bukan ke orang lain. kalau menyampaikan ke orang lain, itu namanya ????. Jawab sendiri ya jawabannya.
Eko Susilo, S.T, M.A.P. Berusaha untuk tahu tentang ilmu adalah baik. Anggota IAI, (Anggota IRMAPA/GRC (Indonesia Risk Management Professional Association-Governance, Risk, Compliance), Anggota IAMI (Institut Akuntan Manajemen Indonesia, Anggota ISI (Ikatan Surveyor Indonesia) : tulisannya : apa aja dalam Catatanku ini Seluruh data, angka, ilustrasi, tabel, contoh kasus, skema, dan simulasi yang digunakan dalam tulisan ini bersifat dummy dan disusun semata-mata untuk tujuan penelitian.
Ciri orang bertanggung jawab pada satu titik masalah :
menghubungi langsung pada orang yang bermasalah, bukan ke orang lain. kalau menyampaikan ke orang lain, itu namanya ????. Jawab sendiri ya jawabannya.
Bahan-Bahan :
1 ekor ayam kampung, potong 4 bagian
1 sdt garam
3 cm lengkuas, memarkan
3 batang serai, memarkan
3 lembar daun jeruk
2 lembar daun salam
90 ml santan instan
500 ml air
1sdt Royco Kaldu Ayam
100g cabai rawit merah, iris
2 sdm minyak, untuk menumis
Bumbu, haluskan
10butir bawang merah
10siung bawang putih
5cm kunyit
4cm jahe
2buah cabai merah keriting
2cm kencur
1sdm merica putih bubuk
1sdm ketumbar
2sdt garam
½sdt jintan bubuk
Cara membuat
1 Lumuri daging
ayam dengan garam.
2 Panaskan grill
pan yang sudah diolesi minyak, panggang daging ayam hingga
permukaannya kecokelatan dan setengah matang. Sisihkan.
3 Panaskan
minyak, tumis bumbu halus, lengkuas, daun salam, daun jeruk, dan serai hingga
harum.
4 Tuang air dan
santan. Masak sambil diaduk hingga mendidih. Tambahkan Royco Kaldu Ayam, aduk.
5 Masukkan daging
ayam dan cabai rawit. Masak sambil sesekali diaduk hingga daging ayam empuk.
Angkat. Sajikan
https://www.masakapahariini.com/resep/resep-ayam-lodho/
https://www.masakapahariini.com/resep/resep-ayam-lodho/
Motivasi dan Profesional itu nyata bukan sekedar jargon dan jauh dari kepentingan dan sesuai pedoman.
Sesuatu yang alami itu indah, damai dan menantang bila dibandingkan sebuah kepura-puraan.
Sikap pantang menyerah itu pasti bahkan etos itu sudah dibentuk sejak awal.
the problem is not in mentality, but in your abilities and attitude, not a measure of my capacity to be compared.
You're bad.
-another-
Produk itu ada : barang atau jasa bagi Pemerintahan.
Jadi kalau saya lebih tertarik ke demikian karena endingnya adalah demikian, kualitas produknya, bukan ke cenderung proses layanannya. End Servicenya.
Kalau layanan dilayani oleh petugas yang baik, ramah, empati dsb pun, jika end servicesnya tidak berkualitas, apakah tetap "puas", tentu tidak khan?.
Itu persepsi saya ya.
Pemahaman "yang penting khan", hasilnya?.
Hasil yang mana?.
Khan saya sudah bilang, hasilnya "tidak sesuai".
Ah...itu khan mencari kesalahan?.
Kesalahan apa?. Saya mencari kesesuaian dalam meneliti dari suatu masalah, masalah publik.
Kalau soal uji pengaruh, apakah saya juga tidak bilang, itu mencari kesalahan?. Karena pengaruh dibuat sampel ke masing-masing responden yang isi pertanyaaanya juga "cenderung mencari kekeliruan, mencari kesesuaian antara realita dengan konsep, antara ide dengan realitas?.
Apakah itu bukan kesalahan juga?.
Bahkan dalam survei yang sifatnya uji pengaruh itu kalau dipahami, bukan asal contreng dalam mengisi lembar kuesioner baik online atau manualpun, sama.. ya sama tujuannya, hanya pendekatannya yang berbeda, kuanti atau kuali.
Jadi, mbok menghargai sajalah, itu penelitian dan penelitian itu oleh saya, sendiri lagi dengan sampel responden terpilih.
Beda tentunya kalau soal proyek yang ada agenda settingnya, agenda kebijakan.
Saya lebih ke "produk end user yang saya teliti dengan basis hulunya dulu bukan ke hilirnya" ternyata kecenderungan saya meneliti, bukan ke arah bagaimana layanan karena keramahan, kepuasan pelanggan karena sikap (social).
Sederhana saja, saya deskriptifkan.
Itu sajaa.....so simple gitulah....
Enggak saya bertele-tele dengan SmartPLS dari Prof. Imam Ghozali dan Creswell sebagai pedoman.
Saya ambil deskriftifnya Prof. Imam Ghozali dan Creswell...jadi itulah "kebenaran ilmiahnya" bukan kebenaran sejati,...uji soal kualitatif deskriftifnya saya dan bukan soal kuantitatifnya.
Jadi mbok yao, saya sudah 19 tahun berkecimpung soal administratif dan soal "cap atau stempel" yang menurut saya ada soal "konsep ketidakcermatan atau ketidaktelitian" yang membuat sesuatu menjadi :
1. Meragukan
2. Ketidaksesuaian
3. Potensi materi digugat
4. Produk yang penting
Just simple khan?.
Ya....
Dalam prakteknya, bisa tidak "nyaman" kalau bicara soal produk, dan saya base regelling dan bukan besichkingnya.
Background ilmu S-1 saya?.
Saya S-1 background Sarjana Teknik, yang dalam kurikulum 2000 saya, ada pelajaran Pengantar Ilmu Hukum, Hukum Agraria 1 s.d III , ada Amdal dan Penilaian Properti dll. Kalau saya dosen, mungkin bisa linier, saya PNS, bisa campuran dan campuran itu lebih baik menurut saya, S-1 Teknik, S-2 nya Hukum atau Ilmu Sosial dll
Dan saya ikut di beberapa seminar di bidang Akuntansi di Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), FMI (forum manajemen Indonesia), Irmapa, GRC dan juga beberapa kali ikutan acara, Bapak Novri Susan , S.Sos, M.A, Phd dan Prof. Sugiyono secara webinar mengenai bagaimana kualitatif itu...demi menguatkan penelitian saya.
Duh.....
Attitude, duh....sebagai murid saya terapkan dan saya pegang pesan orang tua saya.
Yang dimaksud dengan penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak baik yang berasal baik...