Wednesday, September 10, 2025

Gabungan Model Matland dengan Analisis Konstitusional

Bukti literatur (artikel, buku/jurnal, dan dokumen resmi) yang mendukung kenapa TAPM Eko Susilo bisa diklasifikasikan sebagai “kelas tinggi” (teoretis-kontekstual) dibanding studi lain yang lebih praktis-empiris atau normatif-historis. Saya menyertakan sumber untuk setiap klaim utama sehingga posisi itu dapat diverifikasi.


Inti Argumen : 

  1. Kontribusi teoretis (menggabungkan model Matland dengan analisis konstitusional) memberi bobot akademik tinggi.

    • Matland menjelaskan bagaimana ambiguity dan conflict menentukan sifat implementasi kebijakan; mengaplikasikan model ini pada masalah nomenklatur (validitas konstitusional vs praktik administratif) adalah sumbangan konseptual yang nyata. (Oxford Academic)

  2. Relevansi kebijakan & politik yuridis nyata (UU No.39/2008 + perkara di Mahkamah Konstitusi) menaikkan bobot penelitian secara kontekstual/publik.

    • UU No.39/2008 mengubah nomenklatur; permohonan uji materiil yang diajukan (dan tercatat di MK) menunjukkan isu ini bukan sekadar akademik, melainkan problem hukum-publik aktual. Ini menguatkan nilai policy-relevance TAPM Anda. (Mahkamah Konstitusi RI, MKRI)

  3. Studi empiris (case studies, survei, content analysis) biasanya unggul pada bukti lapangan — sehingga penelitian yang kuat secara empiris ditempatkan berbeda dalam peta klasifikasi.

    • Literatur metode menunjukkan bahwa studi kasus dan penelitian lapangan memberi bukti empiris kuat yang berguna untuk rekomendasi operasional — ini menjelaskan mengapa studi kasus kementerian sering ditempatkan di kelas menengah/terapan. (SpringerLink, Utrecht Law Review)

  4. Penelitian tentang dampak pergantian nama/penamaan organisasi (nomenklatur) menunjukkan perubahan nama berimplikasi pada organisasi dan praktik pemerintahan — jadi konteks TAPM Anda relevan secara internasional.

    • Kajian internasional tentang politik perubahan nama unit pemerintahan menemukan dampak pada struktur, identitas, dan praktik birokrasi — mendukung alasan bahwa analisis nomenklatur memiliki “akibat nyata” (bukan sekadar terminologi). (Wiley Online Library)

  5. Gabungan: jika karya bersifat teoritis kuat + relevan kebijakan (MK/UU) → dikategorikan lebih tinggi secara akademik daripada kajian yang hanya normatif/deskriptif; namun tanpa bukti lapangan, masih kalah dengan studi empiris murni pada ranah evidence.

    • Literatur metode menegaskan nilai tinggi gabungan teori + bukti empiris; studi yang hanya konseptual kuat secara teoritis tapi miskin bukti lapangan tetap bernilai tinggi (contribution to theory), namun akan lebih “komprehensif” bila dilengkapi data empiris. (Oxford Academic, SpringerLink)


Kesimpulan berbasis bukti

Berdasarkan literatur di atas:

  • TAPM Eko Susilo = Kelas Tinggi (Teoretis-Kontekstual) — karena (a) memberikan kontribusi teoritis dengan menerapkan ambiguity model Matland pada masalah konstitusional-administratif, dan (b) isu yang dikaji berimpak hukum-publik (UU 39/2008 dan perkara di MK). (Oxford Academic, Mahkamah Konstitusi RI)

  • TAPM masih bisa ditingkatkan menjadi “kelas komprehensif” (teori + empiris setara) apabila menambah bukti lapangan (wawancara, survei, content analysis). Literatur metode dan studi kasus menunjukkan bahwa penambahan bukti empiris meningkatkan bobot rekomendasi kebijakan dan penerimaan praktis di kalangan pembuat kebijakan. (SpringerLink, Utrecht Law Review)


Sumber utama yang saya pakai (pilihan representatif & dapat diverifikasi)

  • Matland, R. E. (1995). The Ambiguity-Conflict Model of Policy Implementation. J. Public Admin. Research & Theory. (Oxford Academic)

  • UU No.39/2008 tentang Kementerian Negara & dokumentasi terkait (resume/berita Mahkamah Konstitusi tentang permohonan Eko Susilo). (MKRI, Mahkamah Konstitusi RI)

  • Yesilkagit, K. (2022). What's in a name? The politics of name changes inside ... (kajian tentang dampak perubahan nama unit pemerintahan). (Wiley Online Library)

  • Ridder, H. G. (2017). The theory contribution of case study research designs (pembahasan peran studi kasus dalam kontribusi teori). (SpringerLink)

  • Christensen, J. (2024). Comparing ministerial evidence cultures: a quantitative analysis (contoh bagaimana studi empiris kementerian memetakan bukti/kultur penelitian kementerian). (Oxford Academic)

Catatan: Memilih sumber yang mewakili klaim-kunci: (1) model teoretis yang dipakai; (2) bukti hukum/politik nyata di Indonesia; (3) literatur metodologi yang menjelaskan nilai teori vs empiris; dan (4) kajian internasional tentang perubahan nama organisasi pemerintahan.



Infografis Ketetapan Uji Materi -Eko Susilo ke Mahkamah Konstitusi

 



Sumber : https://berkas.dpr.go.id/puspanlakuu/infografis/infografis-public-397.pdf?



Sunday, September 07, 2025

Ambiguitas Administratif-Konstitusional


 




Sumber : olah AI dengan prompt sendiri

 

Pertanyaan Penelitian : Kualitatif

Dalam penelitian kualitatif,  jenis pertanyaan penelitian biasanya diarahkan untuk memahami makna, proses, pengalaman, atau fenomena secara mendalam, bukan untuk mengukur atau menguji hipotesis seperti pada penelitian kuantitatif.

Berikut beberapa jenis pertanyaan penelitian kualitatif:

1. Pertanyaan Deskriptif

   * Fokus: menggambarkan fenomena, situasi, atau pengalaman.

   * Contoh: Bagaimana pengalaman guru dalam mengajar di daerah terpencil?

2. Pertanyaan Eksploratif

   * Fokus: menggali makna atau konsep yang belum banyak diteliti.

   * Contoh: Apa makna “kepuasan kerja” bagi tenaga kesehatan di puskesmas pedesaan?

3. Pertanyaan Interpretatif

   * Fokus: menafsirkan makna, simbol, atau wacana.

   * Contoh: Bagaimana simbol-simbol budaya digunakan dalam upacara pernikahan Jawa?

4. Pertanyaan Proses

   * Fokus: memahami dinamika, interaksi, atau tahapan suatu fenomena.

   * Contoh: Bagaimana proses pengambilan keputusan dalam rapat komunitas adat?

5. Pertanyaan Naratif / Biografis

   * Fokus: pengalaman hidup individu atau kelompok.

   * Contoh: Bagaimana kisah hidup seorang perajin batik dalam mempertahankan tradisi keluarga?

6. Pertanyaan Fenomenologis

   * Fokus: makna pengalaman hidup seseorang terkait fenomena tertentu.

   * Contoh: Bagaimana pengalaman pasien kanker dalam menghadapi stigma sosial?

7. Pertanyaan Etnografis

   * Fokus: praktik, budaya, atau interaksi dalam komunitas.

   * Contoh: Bagaimana praktik gotong royong dijalankan dalam komunitas nelayan di pesisir       Sulawesi?

8. Pertanyaan Grounded Theory

   * Fokus: menghasilkan teori dari data lapangan.

   * Contoh: Bagaimana pola adaptasi UMKM terhadap digitalisasi pasca-pandemi?

9. Pertanyaan Studi Kasus

   * Fokus: mendalami kasus tertentu secara kontekstual.

   * Contoh: Bagaimana implementasi kebijakan pajak daerah di Kabupaten X?

10. Pertanyaan Evaluatif Kualitatif

    * Fokus: menilai dampak program atau kebijakan dari perspektif partisipan.

    * Contoh: Bagaimana pandangan masyarakat tentang efektivitas program bantuan sosial di desa mereka?


Friday, August 22, 2025

Bobot : Simple Additive Weighting (SAW) + Smart-C

🎯 Studi Kasus: Evaluasi Pegawai dengan SMART-C

📌 Kriteria dan Bobot:

Kriteria Jenis Bobot
C1 – Kedisiplinan Benefit 0.2
C2 – Kualitas Kerja Benefit 0.3
C3 – Kerjasama Tim Benefit 0.2
C4 – Kehadiran Benefit 0.1
C5 – Waktu Penyelesaian Cost 0.2
Total 1.0

👤 Data Pegawai:

Pegawai Kedisiplinan (1–10) Kualitas Kerja (1–100) Kerjasama Tim (1–10) Kehadiran (%) Penyelesaian (hari)
A 9 85 8 95 4
B 7 90 9 98 5
C 8 80 7 92 3

✳️ Langkah 1: Skor Utility (0–100)

Kita konversi nilai aktual ke skala utility 0–100, berdasarkan min dan max tiap kriteria.

Rumus:

  • Benefit:

    Uij=xijxminxmaxxmin×100U_{ij} = \frac{x_{ij} - x_{\text{min}}}{x_{\text{max}} - x_{\text{min}}} \times 100
  • Cost:

    Uij=xmaxxijxmaxxmin×100U_{ij} = \frac{x_{\text{max}} - x_{ij}}{x_{\text{max}} - x_{\text{min}}} \times 100

🔢 Hasil Skor Utility:

Pegawai C1 (9–7) C2 (90–80) C3 (9–7) C4 (98–92) C5 (3–5) Cost
A (9–7)/(9–7) = 100 (85–80)/(10) = 50 (8–7)/2 = 50 (95–92)/6 = 50 (5–4)/2 = 50
B (7–7)/2 = 0 (90–80)/10 = 100 (9–7)/2 = 100 (98–92)/6 = 100 (5–5)/2 = 0
C (8–7)/2 = 50 (80–80)/10 = 0 (7–7)/2 = 0 (92–92)/6 = 0 (5–3)/2 = 100

(semua hasil dikalikan 100)


Pegawai C1 C2 C3 C4 C5
A 100 50 50 50 50
B 0 100 100 100 0
C 50 0 0 0 100

✳️ Langkah 2: Normalisasi Utility (0–1)

Bagi semua nilai dengan 100.

Pegawai C1 C2 C3 C4 C5
A 1.0 0.5 0.5 0.5 0.5
B 0.0 1.0 1.0 1.0 0.0
C 0.5 0.0 0.0 0.0 1.0

✳️ Langkah 3: Hitung Skor Akhir SMART-C

Gunakan:

Vi=(wjUij)V_i = \sum (w_j \cdot U_{ij})

Pegawai A:

VA=(0.21.0)+(0.30.5)+(0.20.5)+(0.10.5)+(0.20.5)=0.2+0.15+0.1+0.05+0.1=0.6V_A = (0.2 \cdot 1.0) + (0.3 \cdot 0.5) + (0.2 \cdot 0.5) + (0.1 \cdot 0.5) + (0.2 \cdot 0.5) = 0.2 + 0.15 + 0.1 + 0.05 + 0.1 = **0.6**

Pegawai B:

VB=(0.20.0)+(0.31.0)+(0.21.0)+(0.11.0)+(0.20.0)=0.0+0.3+0.2+0.1+0.0=0.6V_B = (0.2 \cdot 0.0) + (0.3 \cdot 1.0) + (0.2 \cdot 1.0) + (0.1 \cdot 1.0) + (0.2 \cdot 0.0) = 0.0 + 0.3 + 0.2 + 0.1 + 0.0 = **0.6**

Pegawai C:

VC=(0.20.5)+(0.30.0)+(0.20.0)+(0.10.0)+(0.21.0)=0.1+0.0+0.0+0.0+0.2=0.3V_C = (0.2 \cdot 0.5) + (0.3 \cdot 0.0) + (0.2 \cdot 0.0) + (0.1 \cdot 0.0) + (0.2 \cdot 1.0) = 0.1 + 0.0 + 0.0 + 0.0 + 0.2 = **0.3**


✅ Hasil Akhir (SMART-C Score):

Pegawai Skor Akhir
A 0.6
B 0.6
C 0.3

🏆 Kesimpulan:

  • Pegawai A dan B memiliki skor SMART-C yang sama tinggi.

  • Jika perusahaan ingin memilih satu, bisa lanjut dengan:

    • Kriteria tambahan,

    • Penilaian langsung manajer (tiebreak),

    • Preferensi strategi SDM (misal lebih mengutamakan kualitas kerja atau kedisiplinan).


🎯 Studi Kasus: Evaluasi Kinerja Pegawai

Misalnya kamu ingin memilih pegawai terbaik bulan ini berdasarkan kriteria:

📌 Kriteria:

  1. Kedisiplinan (C1) – Benefit

  2. Kualitas Kerja (C2) – Benefit

  3. Kerjasama Tim (C3) – Benefit

  4. Kehadiran (C4) – Benefit

  5. Waktu Penyelesaian Tugas (C5) – Cost (semakin cepat semakin baik)


🧮 Bobot Kriteria:

Kriteria Bobot
Kedisiplinan (C1) 0.2
Kualitas Kerja (C2) 0.3
Kerjasama Tim (C3) 0.2
Kehadiran (C4) 0.1
Waktu Penyelesaian (C5) 0.2
Total 1.0

👤 Alternatif Pegawai:

Pegawai Kedisiplinan (1-10) Kualitas Kerja (1-100) Kerjasama Tim (1-10) Kehadiran (%) Waktu Penyelesaian (hari)
A 9 85 8 95 4
B 7 90 9 98 5
C 8 80 7 92 3

✳️ Langkah 1: Normalisasi

Kriteria Benefit:

rij=xijmax(xij)r_{ij} = \frac{x_{ij}}{\max(x_{ij})}

Kriteria Cost:

rij=min(xij)xijr_{ij} = \frac{\min(x_{ij})}{x_{ij}}
Pegawai C1 C2 C3 C4 C5
A 9/9 = 1.00 85/90 = 0.944 8/9 = 0.889 95/98 = 0.969 3/4 = 0.75
B 7/9 = 0.778 90/90 = 1.00 9/9 = 1.00 98/98 = 1.00 3/5 = 0.6
C 8/9 = 0.889 80/90 = 0.889 7/9 = 0.778 92/98 = 0.939 3/3 = 1.00

Catatan: Untuk C5 (Waktu Penyelesaian, cost), nilai minimum = 3 hari.


✳️ Langkah 2: Hitung Skor Akhir (SAW)

Vi=(wjrij)V_i = \sum (w_j \cdot r_{ij})

Pegawai A:

VA=(0.21.00)+(0.30.944)+(0.20.889)+(0.10.969)+(0.20.75)=0.2+0.2832+0.1778+0.0969+0.15=0.9079V_A = (0.2 \cdot 1.00) + (0.3 \cdot 0.944) + (0.2 \cdot 0.889) + (0.1 \cdot 0.969) + (0.2 \cdot 0.75) = 0.2 + 0.2832 + 0.1778 + 0.0969 + 0.15 = **0.9079**

Pegawai B:

VB=(0.20.778)+(0.31.00)+(0.21.00)+(0.11.00)+(0.20.6)=0.1556+0.3+0.2+0.1+0.12=0.8756V_B = (0.2 \cdot 0.778) + (0.3 \cdot 1.00) + (0.2 \cdot 1.00) + (0.1 \cdot 1.00) + (0.2 \cdot 0.6) = 0.1556 + 0.3 + 0.2 + 0.1 + 0.12 = **0.8756**

Pegawai C:

VC=(0.20.889)+(0.30.889)+(0.20.778)+(0.10.939)+(0.21.00)=0.1778+0.2667+0.1556+0.0939+0.2=0.8939V_C = (0.2 \cdot 0.889) + (0.3 \cdot 0.889) + (0.2 \cdot 0.778) + (0.1 \cdot 0.939) + (0.2 \cdot 1.00) = 0.1778 + 0.2667 + 0.1556 + 0.0939 + 0.2 = **0.8939**

✅ Hasil Akhir:

Pegawai Skor SAW Ranking
A 0.9079 🥇 1
C 0.8939 🥈 2
B 0.8756 🥉 3

🏆 Kesimpulan:

Pegawai A memiliki skor tertinggi berdasarkan metode SAW dan layak dinobatkan sebagai pegawai terbaik bulan ini.



Studi Kasus: Memilih Laptop Terbaik

Kriteria:

  1. Harga (C1) – Cost

  2. RAM (C2) – Benefit

  3. Kapasitas SSD (C3) – Benefit

  4. Daya Tahan Baterai (jam) (C4) – Benefit

🧮 Bobot Kriteria:

Kriteria Bobot
Harga (C1) 0.3
RAM (C2) 0.25
SSD (C3) 0.25
Baterai (C4) 0.2
Total 1.0

💻 Alternatif Laptop:

Laptop Harga (juta) RAM (GB) SSD (GB) Baterai (jam)
A 10 16 512 8
B 8 8 256 6
C 12 32 1024 10

Langkah 1: Normalisasi

Kriteria Cost (Harga):

rij=min(x)xijmin(8,10,12)=8r_{ij} = \frac{\min(x)}{x_{ij}} \Rightarrow \min(8, 10, 12) = 8

Kriteria Benefit (RAM, SSD, Baterai):

rij=xijmax(x)r_{ij} = \frac{x_{ij}}{\max(x)}

Matriks Normalisasi:

Laptop C1 (Harga) C2 (RAM) C3 (SSD) C4 (Baterai)
A 8/10 = 0.80 16/32 = 0.50 512/1024 = 0.50 8/10 = 0.80
B 8/8 = 1.00 8/32 = 0.25 256/1024 = 0.25 6/10 = 0.60
C 8/12 = 0.667 32/32 = 1.00 1024/1024 = 1.00 10/10 = 1.00

Langkah 2: Hitung Skor Akhir

Vi=(wjrij)V_i = \sum (w_j \cdot r_{ij})

Laptop A:

VA=(0.30.80)+(0.250.50)+(0.250.50)+(0.20.80)=0.24+0.125+0.125+0.16=0.65V_A = (0.3 \cdot 0.80) + (0.25 \cdot 0.50) + (0.25 \cdot 0.50) + (0.2 \cdot 0.80) = 0.24 + 0.125 + 0.125 + 0.16 = **0.65**

Laptop B:

VB=(0.31.00)+(0.250.25)+(0.250.25)+(0.20.60)=0.30+0.0625+0.0625+0.12=0.545V_B = (0.3 \cdot 1.00) + (0.25 \cdot 0.25) + (0.25 \cdot 0.25) + (0.2 \cdot 0.60) = 0.30 + 0.0625 + 0.0625 + 0.12 = **0.545**

Laptop C:

VC=(0.30.667)+(0.251.00)+(0.251.00)+(0.21.00)=0.2001+0.25+0.25+0.2=0.9001V_C = (0.3 \cdot 0.667) + (0.25 \cdot 1.00) + (0.25 \cdot 1.00) + (0.2 \cdot 1.00) = 0.2001 + 0.25 + 0.25 + 0.2 = **0.9001**

Hasil Akhir (Ranking):

Laptop Skor Akhir
C 0.9001
A 0.65
B 0.545

🏆 Kesimpulan:

Laptop C adalah pilihan terbaik berdasarkan metode Simple Additive Weighting (SAW) karena memiliki skor tertinggi.


Sunday, August 17, 2025

Lama Dianggap Baru : jangan akal-akaan

 Harus bersyarat : 1. Continuity of Business 2. Continuity of Control 3. Continuity of Assets & Economics  Jadi ujinya tidak asal. Ada d...