Terkait dengan data di weblog ini bersumber dari :
A. Dummy data
B. Data sekunder publish di web sumber
Tidak ada data primer atau bersumber langsung atau data dari instansi manapun kecuali yang sudah di publish dan menjadi data bersifat publik.
Eko Susilo, S.T, M.A.P. Berusaha untuk tahu tentang ilmu adalah baik. Anggota IAI, (Anggota IRMAPA/GRC (Indonesia Risk Management Professional Association-Governance, Risk, Compliance), Anggota IAMI (Institut Akuntan Manajemen Indonesia, Anggota ISI (Ikatan Surveyor Indonesia) : tulisannya : apa aja dalam Catatanku ini
Terkait dengan data di weblog ini bersumber dari :
A. Dummy data
B. Data sekunder publish di web sumber
Tidak ada data primer atau bersumber langsung atau data dari instansi manapun kecuali yang sudah di publish dan menjadi data bersifat publik.
Dalam teori sistem (Katz & Kahn), organisasi dipandang sebagai sistem terbuka yang terdiri dari beberapa subsistem: struktur, proses, teknologi, dan manusia.
Janganlan puluhan, ratusan atau milyaran...setibu perak saja tidak.
Maaf ya.
Model hibrid dinamis angsuran PPh Pasal 25 adalah pendekatan gabungan antara indikator administratif (omzet) dan indikator substantif fiskal (perubahan laba kena pajak) dengan bobot empiris yang proporsional. Model ini menghasilkan mekanisme adaptif dan responsif terhadap kondisi riil usaha tanpa menambah beban administratif bagi wajib pajak.
Trigger administratif → sistem memantau kenaikan omzet (misalnya >10–20%) sebagai sinyal awal kewajiban review angsuran.
Kalibrasi substantif → menyesuaikan besaran angsuran berdasarkan estimasi perubahan laba kena pajak dengan mempertimbangkan komposisi biaya.
Kelebihan model hibrid:
Responsif terhadap dinamika ekonomi wajib pajak (melalui omzet),
Akurat secara fiskal (melalui laba kena pajak),
Mudah diimplementasikan dalam sistem e-filing atau data matching.
Dinamisasi Angsuran PPh Pasal 25 berbasis Omset adalah mekanisme penyesuaian angsuran bulanan yang menghitung besaran PPh 25 berdasarkan perubahan peredaran bruto, dengan sistem yang menyesuaikan otomatis melalui integrasi data e-Faktur dan e-Bupot, sebagaimana praktik PAYG (Australia) dan Advance CIT (China).”
Dinamisasi PPh Pasal 25 :
https://en.wikipedia.org/wiki/Debt_service_coverage_ratio
Sepanjang omset ada kenaikan atau penurunan tidak signifikan, maka atas angsuran PPH Pasal 25 yang perhitungannya melebihi dari 12 x jumlah angsuran PPh Pasal 25 di tahun pajak tersebut maka dapat dilakukan dinamisasi atau penyesuaian atau kenaikan besarnya angsuran PPh Pasal 25.
Syarat :
| Ambang kenaikan PPh | >125% dibanding tahun sebelumnya |
| Perkiraan kenaikan omzet pemicunya | Sekitar 20–40%, tergantung margin laba dan efisiensi biaya |
| Kondisi normal (margin stabil) | Kenaikan omzet ±25% sudah cukup menaikkan PPh >125% |
| Implikasi fiskal | WP wajib menghitung ulang angsuran PPh 25 untuk bulan tersisa |
Secara empiris, DSCR dan DACR bersifat saling melengkapi: DSCR menjamin kapasitas fiskal wajib pajak (administratif-kemampuan bayar), DACR menjamin akurasi dan adaptivitas model fiskal (substansial-responsif). Dengan menggabungkan keduanya, model dinamisasi PPh Pasal 25 dapat menjadi self-adjusting system yang adil, prediktif, dan terukur secara fiskal maupun administratif. |
Bersainglah secara sehat
Motto Olimpiade adalah "Citius, Altius, Fortius" (Latin) yang berarti "Lebih Cepat, Lebih Tinggi, Lebih Kuat".
Sejak 2021, motto tersebut diperbarui menjadi "Citius, Altius, Fortius – Communiter" atau "Lebih Cepat, Lebih Tinggi, Lebih Kuat – Bersama" untuk menekankan pentingnya persatuan dan kolaborasi.
Pada lintasan sama dan tanpa kecurangan atau kelicikan...hidup perjuangan dalam hidup.
Menang atau kalau itu soal kualitas hidup.
Kemenangan sejati adalah nguwasani diri, dudu nguwasani liyan (menguasai diri, bukan menguasai orang lain).
“Pertarungan antar manusia adalah cermin dari pertarungan batin dalam diri masing-masing: antara ego dan nurani, antara kehendak untuk berkuasa dan kesadaran untuk berbakti.”
Mudah-mudahan ada Pengaturan Pajak mengenai Benda Mati cfm Aset Berwujud/ Benda Tidak Bergerak dan Benda Hidup/Barang Bergerak/Barang Berwujud (Hewan Ternah, Tumbuhan dll)
Ing sajroning kawruh Jawa, urip iku ora mung babagan menang lan kalah, nanging ngenani ngreksa keseimbangan antarane jagad cilik (diri pribadi) lan jagad gedhe (alam lan masarakat). Nalika jagad rame, ati kudu sepi. Nalika jagad gila, pikir kudu waras.
Dari keseluruhan Serat Kalatidha, dapat disimpulkan beberapa nilai pokok:
Kesadaran moral: jangan hanyut oleh zaman, jaga nurani.
Kesabaran dan introspeksi: hadapi kekacauan dengan laku prihatin.
Spiritualitas aktif: menghadapi penderitaan bukan dengan pasrah buta, tapi dengan kesadaran penuh akan hakikat hidup.
Kearifan universal: kebenaran bersifat abadi, meski dunia berubah.
Siapa yang butuh pajak?
Jawabannya: kita semua.
Negara butuh pajak untuk membangun, melayani, dan menjaga ekonomi tetap kuat.
Masyarakat butuh pajak agar bisa menikmati jalan, sekolah, rumah sakit, dan keamanan.
Dunia usaha pun butuh pajak untuk menciptakan iklim bisnis yang adil dan stabil.
Karena itu, pajak bukan hanya kewajiban — tapi juga kebutuhan bersama.
Negara harus mengelola dengan jujur dan transparan.
Masyarakat harus taat dan ikut mengawasi.
Kalau negara dipercaya dan rakyat berpartisipasi,
maka pajak akan benar-benar menjadi alat pembangunan.
Karena sama-sama butuh pajak,
mari sama-sama membangun negeri.
Nilai Kinerja Pegawai= (Output Kinerja /Skor Beban Kerja) x Bobot Efektivitas
Output Kinerja: hasil kerja nyata pegawai sesuai target kinerja individu (misalnya jumlah laporan, kegiatan, pelayanan, atau capaian program).
Skor Beban Kerja: total perhitungan antara jumlah tugas yang ditangani dengan bobot kompleksitasnya.
Bobot Efektivitas: faktor penyesuaian berdasarkan capaian target (1,0 = sesuai target; >1,0 = melampaui target; <1,0 = belum mencapai target).
| Kategori Tugas | Ciri Utama | Contoh | Bobot Kompleksitas (C) |
|---|---|---|---|
| Tinggi | Tugas strategis, berdampak luas, risiko tinggi | Perumusan kebijakan, audit besar, analisis strategis | 3 |
| Sedang | Tugas operasional penting, berdampak menengah | Pelayanan, penyusunan laporan, koordinasi lintas unit | 2 |
| Rendah | Tugas rutin atau administratif dengan risiko rendah | Arsip, input data, dukungan teknis | 1 |
SBK=Jumlah Tugas/Bobot Kompleksitas
Contoh:
| Kategori | Jumlah Tugas | Bobot | Total Skor |
|---|---|---|---|
| Tinggi | 10 | 3 | 30 |
| Sedang | 20 | 2 | 40 |
| Rendah | 15 | 1 | 15 |
| Total SBK | 45 | 85 |
Misal:
Output Kinerja (dalam poin capaian) = 95
Skor Beban Kerja (SBK) = 85
Bobot Efektivitas = 1,05
Nilai Kinerja Pegawai = 95/85 x 1,05 = 1,17
]
Interpretasi:
* > 1,0 → Melampaui target
* =1,0 → Sesuai target
* <1,0 → Di bawah target
Untuk menjaga keseimbangan antara hasil kerja dan perilaku:
| Aspek | Bobot | Nilai (1–5) | Skor |
|---|---|---|---|
| Integritas & Kepatuhan Etika | 15% | 5 | 0,75 |
| Kerjasama & Komunikasi | 10% | 4 | 0,40 |
| Inovasi & Ketepatan Laporan | 10% | 4 | 0,40 |
Kemudian nilai akhir dihitung:
Nilai Akhir Pegawai =
Nilai Kinerja Pegawai 0,65+Skor Perilaku 0,35
]
Menghitung proporsionalitas beban kerja antar pegawai (tidak semua pegawai punya jenis tugas sama).
Menjamin objektivitas merit system dengan dasar data dan perhitungan terukur.
Bisa diterapkan di semua unit — pelayanan, pengawasan, administrasi, maupun analisis.
Mendorong budaya kinerja berbasis hasil dan kualitas, bukan sekadar banyaknya pekerjaan.
Kau Tidak Percaya, AKU LEBIH TIDAK PERCAYA. TAHU...!!!
Ingat Masa Lalumu.....tangisi, resapi dan ingat..PAHAM KAU SOAL HIDUP????!!!
Kuitpan Puisi Tentang "TRUST"
…dengan pemisahan tegas antara yang:
1️⃣ Terkait penghasilan (objek PPh),
2️⃣ Terkait penghasilan bukan objek pajak, dan
3️⃣ Tidak terkait dengan penghasilan (non-income transactions).
| Jenis Data | Sumber Dokumen | Keterangan Detil | Dampak Pajak |
|---|---|---|---|
| Faktur Pajak Keluaran | e-Faktur (PMSE, DJP, atau internal) | Bukti penyerahan BKP/JKP oleh PKP; menjadi dasar PPN keluaran dan omzet bruto | Menambah omzet dan dasar pengenaan PPN |
| Faktur Penjualan / Invoice | Sistem akuntansi, manual, e-commerce | Menunjukkan nilai penjualan barang/jasa yang dilakukan | Menambah omzet |
| Nota kontan / Kwitansi | Kasir / POS | Transaksi tunai yang sering tidak tercatat di faktur | Menambah omzet (sering jadi sumber temuan DJP) |
| Mutasi rekening bank (kredit) | Rekening koran, mutasi harian | Dana masuk dari pelanggan — perlu uji kesesuaian dengan faktur | Menambah omzet jika berasal dari pelanggan |
| Laporan penjualan harian | POS, ERP, laporan kas harian | Rekap total transaksi per hari, bisa dibandingkan dengan penjualan akuntansi | Menambah omzet |
| Bukti pengiriman barang / DO | Surat jalan, BAST | Indikasi penyerahan fisik barang — bukti waktu pengakuan omzet | Menentukan waktu pengakuan penghasilan |
| Kontrak / Purchase Order | Dokumen perjanjian | Menjadi dasar kesepakatan harga dan volume penjualan | Bukti validasi omzet |
| Laporan E-Commerce | Shopee, Tokopedia, Bukalapak | Berisi nominal transaksi online | Menambah omzet |
| Laporan marketplace settlement | Transfer dari platform ke rekening | Bukti dana diterima dari platform | Menambah omzet |
| Retur penjualan | Nota retur / faktur pengganti | Mengurangi omzet tahun berjalan | Mengurangi penghasilan bruto |
| Jenis Data | Sumber Dokumen | Keterangan | Dampak Pajak |
|---|---|---|---|
| Setoran Modal | Akta, mutasi rekening, notulen RUPS | Tambahan modal dari pemegang saham | Tidak menambah omzet |
| Pinjaman diterima | Perjanjian pinjaman, rekening koran | Utang yang wajib dikembalikan | Tidak menambah omzet |
| Hibah/Sumbangan yang memenuhi Pasal 4(3)a | Akta hibah, surat keterangan | Harus tidak ada hubungan usaha dan tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan | Bukan objek PPh |
| Pengembalian piutang tak tertagih | Bukti penerimaan kas | Jika sudah dibebankan tahun lalu, maka kini bukan penghasilan lagi | Tidak menambah omzet |
| Dividen antar badan dalam negeri | Bukti pembagian dividen, notulen RUPS | Bila memenuhi Pasal 4(3)f UU PPh | Bukan objek PPh |
| Jenis Data | Sumber | Penjelasan | Dampak Pajak |
|---|---|---|---|
| Penjualan aset tetap | Akta jual beli, BAST | Bukan omzet, tapi menghasilkan keuntungan atau kerugian fiskal | Kena pajak bila ada laba atas selisih harga jual dengan nilai buku |
| Transfer antar rekening | Mutasi antar bank | Harus dieliminasi dari analisis omzet | Tidak memengaruhi |
| Pengembalian uang muka | Bukti transfer | Koreksi atas transaksi sebelumnya | Tidak menambah omzet |
| Jenis Data | Sumber | Keterangan | Dampak Pajak |
|---|---|---|---|
| Neraca akhir tahun lalu | Laporan keuangan audit | Pos “Persediaan” (barang dagangan, bahan baku, barang dalam proses) | Menjadi persediaan awal tahun berjalan |
| Laporan opname gudang tahun lalu | Berita acara opname | Fisik barang pada 31 Desember | Menentukan saldo awal stok |
| Kartu stok (stock card) | Sistem inventory | Rincian item dan jumlah | Validasi internal |
| Nilai persediaan (FIFO, average) | Sistem akuntansi | Metode penilaian menentukan HPP | Pengaruh ke HPP dan laba kena pajak |
| Jenis Data | Sumber | Penjelasan | Dampak Pajak |
|---|---|---|---|
| Opname fisik 31 Desember | Berita acara opname | Mengukur stok nyata akhir tahun | Menentukan nilai persediaan akhir |
| Kartu stok | Sistem inventory | Menggambarkan pergerakan per barang | Validasi dengan fisik |
| Laporan stok rusak/usang | Notulen opname | Koreksi nilai persediaan | Bisa dibebankan jika memenuhi Pasal 6 UU PPh |
| Penyesuaian stok | Jurnal penyesuaian | Koreksi perbedaan fisik dan buku | Menyesuaikan HPP fiskal |
| Harga pokok satuan terakhir | Sistem akuntansi | Penilaian FIFO atau average | Pengaruh laba bruto |
| Jenis Data | Sumber | Keterangan | Dampak Pajak |
|---|---|---|---|
| Faktur pajak masukan | e-Faktur / vendor | Bukti pembelian BKP/JKP | Pajak masukan dapat dikreditkan |
| Invoice / nota pembelian | Vendor | Bukti pembelian barang atau jasa | Meningkatkan HPP |
| Bukti penerimaan barang | BAST / GRN | Konfirmasi barang diterima | Validasi pengakuan persediaan |
| Bukti pembayaran | Transfer bank, kas kecil | Verifikasi realisasi pembelian | Bukti keabsahan biaya |
| Rekap pembelian bulanan | Sistem akuntansi | Total pembelian selama periode | Dasar analisis HPP |
| Laporan importasi | Pemberitahuan Impor Barang (PIB) | Barang impor, termasuk bea masuk dan PPN impor | Tambahan biaya perolehan |
| Retur pembelian | Nota retur / faktur pengganti | Mengurangi nilai pembelian | Koreksi HPP |
| Jenis Data | Sumber | Keterangan | Dampak Pajak |
|---|---|---|---|
| Pembelian aset tetap | Faktur, BAST, akta jual beli | Tidak langsung memengaruhi HPP, masuk daftar aktiva | Disusutkan fiskal |
| Pembelian pribadi (pribadi direksi/pemilik) | Bukti belanja, mutasi rekening | Tidak berkaitan usaha | Tidak dapat dikurangkan |
| Pengeluaran investasi | Perjanjian investasi | Termasuk pembelian saham, properti investasi | Tidak memengaruhi HPP |
| Jenis Biaya | Dokumen Sumber | Keterangan | Dampak Pajak |
|---|---|---|---|
| Gaji, upah, bonus | Daftar gaji, bukti potong PPh 21 | Harus ada bukti potong dan daftar hadir | Mengurangi penghasilan bruto |
| Sewa tempat, kendaraan, alat | Kontrak, faktur, bukti bayar | Untuk operasional usaha | Mengurangi penghasilan bruto |
| Biaya listrik, air, telepon, internet | Tagihan, bukti bayar | Harus atas nama perusahaan | Mengurangi laba |
| Biaya transportasi, pengiriman | Nota pengiriman, SPJ | Mendukung kegiatan usaha | Deductible |
| Biaya bunga pinjaman | Kontrak kredit, bukti transfer | Hanya untuk pinjaman usaha | Deductible |
| Biaya promosi, iklan | Faktur, kontrak | Untuk penjualan | Deductible |
| Biaya administrasi & bank | Rekening koran, nota debet | Biaya operasional usaha | Deductible |
| Penyusutan & amortisasi | Daftar aktiva tetap | Harus sesuai Pasal 11 & 11A UU PPh | Deductible |
| Biaya asuransi usaha | Polis dan bukti bayar | Asuransi inventaris, gedung, karyawan | Deductible |
| Biaya pelatihan karyawan | Invoice, sertifikat | Terkait peningkatan kemampuan | Deductible |
| Jenis Biaya | Dokumen Sumber | Keterangan | Dampak Pajak |
|---|---|---|---|
| Denda dan sanksi pajak | Surat Tagihan Pajak, SSP | Tidak boleh dikurangkan (Pasal 9 ayat (1) huruf k UU PPh) | Koreksi fiskal positif |
| Biaya pribadi pemilik | Bukti belanja | Tidak terkait usaha | Koreksi fiskal positif |
| Sumbangan dan donasi | Bukti transfer | Kecuali melalui lembaga resmi (Pasal 9 ayat (1) huruf g) | Non-deductible |
| Biaya untuk penghasilan bukan objek pajak | Perhitungan bunga, mutasi | Tidak terkait kegiatan usaha | Non-deductible |
| Pembentukan cadangan tanpa dasar | Jurnal akuntansi | Tidak diatur Pasal 9 | Non-deductible |
| Royalti atau fee ke afiliasi tanpa dasar wajar | Kontrak transfer pricing | Koreksi fiskal positif | Non-deductible |
| Elemen | Hubungan dengan Data Lain | Tujuan Analisis |
|---|---|---|
| Peredaran usaha | Harus sinkron dengan mutasi rekening dan faktur keluaran | Uji kepatuhan omzet |
| Pembelian | Harus sesuai dengan faktur masukan dan stok masuk | Uji HPP dan PPN Masukan |
| Persediaan awal & akhir | Harus sinkron dengan laporan opname dan kartu stok | Uji akurasi HPP |
| Biaya operasional | Harus didukung bukti sah dan rasional terhadap omzet | Uji kewajaran laba |
| Arus kas masuk | Harus dapat dijelaskan asal-usulnya (penghasilan, pinjaman, modal) | Uji potensi tambahan kemampuan ekonomis (Pasal 4 ayat (1) huruf d UU PPh) |
Jika aku pergi dari tempat itu
Berikan hadiah itu atau souvenir itu ke anak Yatim Piatu (uangnya)
Seperti yang saya lakukan sebelumnya di tempat lain.
Hitungan Prive : Pendekatan UMK/UMR : Pendekatan Biaya Hidup (minimalnya)
Cara :
Kalau ada kursi panas ambil saja karena ada kursi yang dingin. Lebih baik cari dengan berpindah ke kursi dingin. Tentram dan damai dalam jiwa. Kenapa ?.
Panas itu api...api membentuk setan. Karena setan diciptakan dari api.
Lari atau jalan kalau lintasannya sama itu bisa akan mengukur pada kemampuan orangnya.
Gini maksudnya :
Lari jarak 100 M dengan 200 M itu beda.
Pada waktu yang sama, tentu jarak 100 M akan bisa menjadi pemenang kecuali yang di 200 M itu manusia super.
Jika dibandingkan, tentu beda sejak logikanya dibangun.
![]() |
Contoh :
1. Omset
o Rp10 miliar per tahun
o Angka ini mudah
dilihat di laporan penjualan bulanan.
2. Profit & Loss
(Laba Rugi)
o Laba bersih: Rp800
juta
o Setelah dipotong HPP,
gaji, sewa, dan biaya operasional.
3. Service
o Tingkat kepuasan
pelanggan: 85%
o Diukur melalui survei
dan rating toko online.
4. Customer Complain
(Keluhan Pelanggan)
o 120 komplain per
tahun
o Terutama soal
keterlambatan pengiriman dan barang cacat.
5. Revenue (Pendapatan)
o Rp10 miliar (selaras
dengan omset).
6. Quality (Kualitas
Produk/Jasa)
o 95% produk lolos uji
kualitas
o Namun 5% masih retur
ke supplier.
7. SDM
o 50 karyawan
o Rasio produktivitas:
Rp200 juta/karyawan/tahun.
8. HPP (Harga Pokok
Produksi/Penjualan)
o Rp7 miliar
o Artinya margin kotor
sekitar 30%.
Kesimpulan bagian
terlihat: Laporan keuangan dan KPI terlihat cukup baik, perusahaan tampak
sehat di atas kertas.
2. Bagian Tidak
Terlihat (Invisible)
Angka-angka ini
jarang muncul di laporan formal, tapi dampaknya sangat besar.
1. SOP gak jalan
o Akibat SOP tidak
diikuti, terjadi keterlambatan pengiriman 15%.
o Dampak: kerugian
reputasi & biaya kompensasi Rp200 juta.
2. COGS bocor
o Ada inefisiensi
pembelian bahan (mark-up supplier 3%).
o Kebocoran: Rp210
juta/tahun.
3. Pemborosan revenue
o 2% transaksi hilang
karena salah input kasir dan retur tidak tercatat.
o Nilai: Rp200 juta.
4. Decision making
lambat
o Persetujuan harga
diskon butuh 5 hari.
o Akibatnya, kehilangan
peluang penjualan Rp500 juta/tahun.
5. Overstaffing
o Ada 5 karyawan
berlebih.
o Biaya gaji sia-sia
Rp300 juta/tahun.
6. Energi &
utilities boros
o Listrik & air
Rp50 juta/bulan → seharusnya Rp35 juta.
o Selisih Rp180
juta/tahun.
7. Miss komunikasi
o Kesalahan koordinasi
antar divisi → 50 pesanan salah kirim.
o Biaya retur &
kompensasi Rp100 juta.
8. Data tercecer
o Tidak ada sistem ERP,
laporan manual sering hilang.
o Estimasi kerugian
data: Rp50 juta (karena pencarian & perbaikan).
9. Inventory
o Barang menumpuk Rp1 miliar
→ 20% rusak/usang.
o Kerugian Rp200 juta.
10. Janji marketing tidak
match operasional
o Marketing janji
garansi 3 hari, realisasi 7 hari.
o Hilang 100 pelanggan
potensial → Rp300 juta revenue gagal masuk.
11. Kontrak supplier
tidak efisien
o Harga 5% lebih tinggi
dari pasar.
o Selisih Rp250
juta/tahun.
12. Gali lubang tutup
lubang
o Tutup kekurangan kas
dengan pinjaman jangka pendek.
o Biaya bunga tambahan
Rp100 juta.
13. Diskon tanpa ROI
o Diskon Rp500 juta diberikan tanpa perhitungan.
o Tambahan penjualan hanya Rp200 juta → rugi Rp300 juta.
Don't Be Childish