Susunan Dalam Satu Naskah UU KUP, PPh, dan PPN berdasarkan UU 6/2023.
Isinya sebagian besar ada di UU Nomor 7 Tahun 2021 karena mekanismenya adalah mengubah bukan mengganti atau mencabut.
Eko Susilo, S.T, M.A.P. Berusaha untuk tahu tentang ilmu adalah baik. Anggota IAI, (Anggota IRMAPA/GRC (Indonesia Risk Management Professional Association-Governance, Risk, Compliance), Anggota IAMI (Institut Akuntan Manajemen Indonesia, Anggota ISI (Ikatan Surveyor Indonesia) : tulisannya : apa aja dalam Catatanku ini Seluruh data, angka, ilustrasi, tabel, contoh kasus, skema, dan simulasi yang digunakan dalam tulisan ini bersifat dummy dan disusun semata-mata untuk tujuan penelitian.
Susunan Dalam Satu Naskah UU KUP, PPh, dan PPN berdasarkan UU 6/2023.
Isinya sebagian besar ada di UU Nomor 7 Tahun 2021 karena mekanismenya adalah mengubah bukan mengganti atau mencabut.
Tabel 5-Layer Test
Layer Indikator Penjelasan Teori yang Relevan Risiko Deemed Dividend Ambang Batas Rumus
1 Dividend Payout Ratio (DPR) Rasio pembagian dividen terhadap laba bersih. DPR rendah dapat menunjukkan laba ditahan. Bird in the Hand Theory (Gordon & Lintner), Signaling Theory (Miller & Modigliani) DPR rendah mengindikasikan bahwa laba seharusnya dibagikan sebagai dividen tetapi ditahan. Ambang Batas: < 30% (untuk perusahaan yang sehat) DPR = (Dividen yang dibagikan / Laba Bersih) × 100%
2 Retained Earnings to Equity Ratio (RE/E) Proporsi laba ditahan terhadap total ekuitas. RE/E tinggi berarti laba ditahan lebih banyak dibandingkan dengan ekuitas. Life-Cycle Theory (Fama & French), Agency Theory (Jensen & Meckling) RE/E tinggi mengindikasikan perusahaan menahan laba secara berlebihan, berisiko dianggap sebagai deemed dividend. Ambang Batas: > 50% RE/E = (Laba Ditahan / Ekuitas) × 100%
3 Retained Earnings Growth (RE Growth) Tingkat pertumbuhan laba ditahan dari waktu ke waktu. Pertumbuhan yang signifikan tanpa distribusi dividen bisa mencerminkan penahanan laba. Internal Growth Theory (Modigliani & Miller), Investment Decision Theory (Myers & Majluf) RE Growth tinggi tanpa distribusi dividen dapat menunjukkan bahwa laba ditahan berlebihan, yang mungkin dianggap sebagai deemed dividend. Ambang Batas: > 10% per tahun RE Growth = (RE tahun ini - RE tahun lalu) / RE tahun lalu × 100%
4 Cash Flow to Net Income Ratio (CF/NI) Rasio kas operasional terhadap laba bersih. CF/NI yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki cukup kas tetapi memilih untuk menahan laba. Liquidity Theory (Miller & Modigliani), Cash Management Theory (Lynch & Pyles) CF/NI tinggi menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar dividen, namun jika tidak dibagikan, ini dapat dianggap sebagai deemed dividend. Ambang Batas: > 1,0 CF/NI = (Arus Kas Operasional / Laba Bersih)
5 Debt to Equity (D/E) Perbandingan antara utang dan ekuitas. D/E rendah menunjukkan perusahaan tidak terlalu bergantung pada utang dan memiliki fleksibilitas untuk menahan laba. Modigliani & Miller's Theory (MM), Trade-Off Theory (Kraus & Litzenberger) D/E rendah menunjukkan perusahaan memiliki struktur modal yang kuat dan lebih bebas menahan laba, yang berpotensi dianggap sebagai deemed dividend. Ambang Batas: < 1,0 D/E = (Utang Total / Ekuitas)
Penjelasan Tambahan:
Dividend Payout Ratio (DPR):
Ambang Batas: < 30% untuk perusahaan yang sehat, yang menunjukkan bahwa perusahaan lebih suka menahan sebagian besar labanya untuk pertumbuhan atau tujuan lain.
Rumus: DPR dihitung dengan membandingkan dividen yang dibagikan dengan laba bersih, yang memberikan gambaran seberapa besar laba yang dibagi kepada pemegang saham.
Retained Earnings to Equity Ratio (RE/E):
Ambang Batas: > 50%, yang menunjukkan bahwa perusahaan lebih banyak menahan laba daripada membagikan dividen. Angka ini menunjukkan kecenderungan untuk mempertahankan laba daripada mendistribusikannya.
Rumus: Rasio ini dihitung dengan membandingkan laba ditahan dengan total ekuitas untuk menilai proporsi laba yang tidak dibagikan.
Retained Earnings Growth (RE Growth):
Ambang Batas: > 10% per tahun, yang menunjukkan pertumbuhan laba ditahan yang signifikan tanpa pembagian dividen.
Rumus: Menghitung perubahan laba ditahan dari tahun sebelumnya, menunjukkan sejauh mana laba ditahan berkembang seiring waktu.
Cash Flow to Net Income Ratio (CF/NI):
Ambang Batas: > 1,0, yang menunjukkan bahwa arus kas operasional lebih besar daripada laba bersih, memberi perusahaan cukup dana untuk membayar dividen, namun tidak melakukannya.
Rumus: Dihitung dengan membandingkan arus kas operasional dengan laba bersih untuk mengukur sejauh mana laba yang dilaporkan dapat diubah menjadi kas yang tersedia.
Debt to Equity (D/E):
Ambang Batas: < 1,0, yang menunjukkan bahwa perusahaan lebih bergantung pada ekuitas daripada utang, memberikan fleksibilitas lebih dalam keputusan pembagian dividen.
Rumus: Rasio ini dihitung dengan membandingkan total utang dengan total ekuitas, menggambarkan sejauh mana perusahaan menggunakan utang untuk membiayai operasinya.
Berikut adalah contoh **rumus dan perhitungan** berdasarkan integrasi **Akuntansi Geospasial (GA)**, **Activity-Based Costing (ABC)**, dan **Transfer Pricing (TP)** menggunakan data dummy untuk ilustrasi:
1. Data Dummy untuk Simulasi
1. Data Dummy untuk Simulasi*
- Lokasi Produksi:
- Wilayah A (Negara X): Biaya logistik = $5/unit, Pajak = 10%.
- Wilayah B (Negara Y): Biaya logistik = $8/unit, Pajak = 15%.
B. Data Aktivitas (ABC)
- Biaya Overhead: $50,000 (terdiri dari 3 aktivitas):
1. Setup Mesin: $20,000 (Cost Driver: Jam setup = 200 jam).
2. Kontrol Mutu: $15,000 (Penggerak Biaya: Jumlah inspeksi = 150 kali).
3. Distribusi: $15,000 (Cost Driver: Jumlah unit = 1,500 unit).
- Produk:
- Produk Alpha: Konsumsi aktivitas = 50 jam setup, 30 inspeksi, 500 unit.
C. Parameter Harga Transfer (TP)
- Metode: Biaya Plus dengan markup 20%.
- **Biaya Produksi Langsung**: $30/unit (bahan baku + tenaga kerja).
-2. Rumus dan Perhitungan
A. Akuntansi Geospasial (GA)
Rumus Total Biaya per Unit (Lokasi Spesifik):
{Total Biaya/Unit} = ({Biaya Produksi} + {Biaya Logistik}) \times (1 +{Pajak})
Contoh Perhitungan di Wilayah A (Negara X):
{Total Biaya/Unit} = ($30 + \$5) \times 1,10 = \$35 \times 1,10 = \$38,50/{unit}
Perhitungan di Wilayah B (Negara Y):
{Total Biaya/Unit} = ($30 + \$8) \times 1,15 = $38 \times 1,15 = \$43,70/{unit}
B. Biaya perhitungan Berdasarkan Aktivitas (ABC)
Langkah 1: Hitung Tarif Aktivitas
1. Setup Mesin:
{Pengaturan Tarif} = \frac{\$20.000}{200 \{ jam}} = \$100/\{jam}
2. Kontrol Kualitas:
{Tarif Inspeksi} = \frac{\$15,000}{150 \{ inspeksi}} = \$100/\{inspeksi}
3. Distribusi:
\text{Tarif Distribusi} = \frac{\$15.000}{1.500 \text{ unit}} = \$10/\text{unit]
Langkah 2: Alokasikan Biaya ke Produk Alpha
1. Biaya Setup:
50 \teks{ selai} \kali \$100 = \$5.000
2. Biaya Quality Control:
30 \text{ inspeksi} \times \$100 = \$3,00
3. Biaya Distribusi:
500 \teks{satuan} \kali \$10 = \$5.000
Total Biaya Overhead untuk Produk Alpha:
\$5.000 + \$3.000 + \$5.000 = \$13.000
Biaya Overhead per Unit (500 unit):
\frac{\$13.000}{500} = \$26/\teks{satuan}
C. Penetapan Harga Transfer (Metode Biaya Plus)
Rumus Harga Transfer:
\text{Harga Transfer} = (\text{Biaya Produksi Langsung} + \text{Biaya Overhead/Unit}) \times (1 + \text{Markup}) + \text{Biaya Logistik (GA)}
Contoh Perhitungan untuk Wilayah A:
1. Biaya Total/Satuan (ABC + GA):
\$30 \text{ (langsung)} + \$26 \text{ (overhead)} + \$5 \text{ (logistik)} = \$61/\text{unit}
2. Markup 20%:
\$61 \kali 1,20 = \$73,20/\teks{satuan}
3. Penyesuaian Pajak (10%):
\$73,20 \kali 1,10 = \$80,52/\teks{satuan}
Harga Transfer Akhir: \$80,52/unit.
3. Integrasi GA + ABC + TP
Contoh Kasus: Perusahaan di Wilayah A menjual ke Wilayah B.
1. Biaya Produksi + Overhead (ABC):
$30 + $26 = $56/\teks{satuan}
2. Biaya Logistik (GA) :
\$5/\teks{unit (Wilayah A)} → \$8/\teks{unit (Wilayah B)}
3. Harga Transfer dengan Markup 20%:
(\$56 + \$8) \kali 1,20 = \$64 \kali 1,20 = \$76,80/\teks{satuan]
4. Penyesuaian Pajak (Wilayah B: 15%):
\$76,80 \kali 1,15 = \$88,32/\teks{satuan}
Harga Akhir Transfer ke Wilayah B: \$88,32/unit.
4. Rumus untuk Metode Lain
A. TNMM (Metode Margin Bersih Transaksional)
**Rumus Margin Laba Bersih**:
\text{Margin Laba} = \frac{\text{Laba Bersih}}{\text{Total Biaya}} \times 100\%
**Konten**:
- Total Biaya (ABC + GA) = \$61/unit.
- Harga Jual Pasar = \$90/unit.
- Laba Bersih = \$90 - \$61 = \$29.
- Margin = \(\frac{29}{61} \kali 100\% = 47,5\%\).
B. Metode CUP (Comparable Uncontrolled Price)
Rumus Harga Transfer:
{Harga Transfer} = {Harga Pasar Terbuka} \pm \{Penyesuaian Geospasial (GA)}
Konten:
- Harga pasar produk serupa di Wilayah B = \$85/unit.
- Penyesuaian biaya logistik (GA): \(+\$3/\text{unit}\).
- Harga Transfer = \$85 + \$3 = \$88/unit.
5. Tabel Sintesis Rumus\
| **Komponen** | **Rumus** | **Contoh Hasil** |
|-------|----------------------------------------- ---------------------------------- | -----------------------|
| **GA (Biaya/Satuan)** | \((\text{Biaya Produksi} + \text{Logistik}) \times (1 + \text{Pajak})\) | \$38,50 (Wilayah A) |
| **ABC (Overhead)** | \(\frac{\text{Total Biaya Aktivitas}}{\text{Cost Driver}}\) | \$26/unit (Produk A) |
| **TP Cost Plus** | \((\text{Biaya Total} + \text{Markup}) \times (1 + \text{Pajak})\) | \$80.52/unit |
| **TP TNMM** | \(\frac{\text{Laba Bersih}}{\text{Total Biaya}} \times 100\%\) | 47.5% Margin |
Kesimpulan
Integrasi GA (lokasi), ABC (aktivitas), dan TP (harga) menghasilkan perhitungan yang akurat untuk perusahaan multinasional. Dengan data dummy di atas, perusahaan dapat menentukan harga transfer yang wajar, memenuhi standar OECD.
Dalam kinerja, lebih baik menentukan potensi menjadi target dan memperoleh realisasi. Berikut adalah alasan-alasannya:
1. Mengidentifikasi kemampuan : Menentukan potensi terlebih dahulu membantu mengidentifikasi kemampuan dan kekuatan yang dimiliki. Dengan demikian, target yang ditetapkan dapat lebih realistis dan sesuai dengan kemampuan.
2. Mengoptimalkan sumber daya: Menentukan potensi terlebih dahulu membantu mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki. Dengan demikian, target yang ditetapkan dapat lebih efektif dan efisien.
3. Mengurangi risiko: Menentukan potensi terlebih dahulu membantu mengurangi risiko kegagalan. Dengan demikian, target yang ditetapkan dapat lebih aman dan lebih mudah dicapai.
4. Meningkatkan motivasi: Menentukan potensi terlebih dahulu membantu meningkatkan motivasi dan semangat. Dengan demikian, target yang ditetapkan dapat lebih menarik dan lebih mudah dicapai.
Sementara itu, menentukan target lalu memperoleh realisasi dapat memiliki beberapa kelemahan, seperti:
1. Target yang tidak realistis: Target yang ditetapkan tanpa mempertimbangkan potensi dapat tidak realistis dan sulit dicapai.
2. Sumber daya yang tidak efektif: Target yang ditetapkan tanpa mempertimbangkan potensi dapat menyebabkan sumber daya yang tidak efektif dan tidak efisien.
3. Risiko kegagalan yang lebih tinggi: Target yang ditetapkan tanpa mempertimbangkan potensi dapat memiliki risiko kegagalan yang lebih tinggi.
Dengan demikian, menentukan potensi menjadi target dan memperoleh realisasi adalah pendekatan yang lebih baik dalam kinerja.
Berikut adalah rumus yang menghubungkan **Transfer Pricing (TP)**, **Geospatial Accounting (GA)**, dan **Activity-Based Costing (ABC)** dengan pendekatan yang sistematis:
---
### **1. Rumus Dasar Transfer Pricing (TP)**
\[
TP = C + M
\]
Di mana:
- **C** = Total biaya (Cost) produksi dan distribusi yang dihitung berdasarkan metode **ABC (Activity-Based Costing)**.
- **M** = Mark-up atau margin keuntungan sesuai kebijakan perusahaan atau regulasi pajak internasional.
Dalam konteks **GA (Geospatial Accounting)**, biaya (C) dapat dimodifikasi dengan mempertimbangkan faktor lokasi seperti data geospasial, risiko, dan sumber daya.
---
### **2. Integrasi ABC ke dalam Transfer Pricing**
**Activity-Based Costing (ABC)** digunakan untuk menghitung biaya aktivitas di lokasi tertentu, dengan rumus:
\[
C = \sum \left( \text{Biaya Per Aktivitas} \times \text{Volume Aktivitas} \right)
\]
Ketika faktor geospasial dipertimbangkan:
\[
C_{GA} = \sum \left( (D \times G \times T) \div (E + S + R + C) \right)
\]
Di mana:
- **D** = Data geospasial (lokasi, jarak, luas, dll.)
- **G** = Aktivitas geospasial (transportasi, produksi, penyimpanan, dll.)
- **T** = Teknologi geospasial (GIS, GPS, remote sensing, dll.)
- **E** = Ekonomi geospasial (biaya, pendapatan, keuntungan, dll.)
- **S** = Sumber daya geospasial (tanah, air, udara, dll.)
- **R** = Risiko geospasial (bencana alam, perubahan iklim, dll.)
- **C** = Konteks geospasial (politik, regulasi, sosial, dll.)
---
### **3. Rumus Gabungan TP, GA, dan ABC**
Integrasi TP, GA, dan ABC dapat dirumuskan sebagai berikut:
\[
TP = \left( \frac{\sum (D \times G \times T)}{\sum (E + S + R + C)} \right) + M
\]
#### **Penjelasan Rumus:**
1. **Komponen Biaya (C):**
- Biaya dihitung menggunakan pendekatan ABC yang berbasis lokasi dengan memanfaatkan komponen geospasial dari GA.
- \( D \times G \times T \) adalah kontribusi positif dari data, aktivitas, dan teknologi geospasial.
- \( E + S + R + C \) adalah faktor pembagi yang mencerminkan biaya ekonomi, sumber daya, risiko, dan konteks geospasial.
2. **Komponen Mark-up (M):**
- Margin keuntungan disesuaikan dengan regulasi perpajakan atau strategi perusahaan.
---
### **4. Contoh Aplikasi:**
#### **Kasus Logistik Multinasional**
- **GA:** Data lokasi digunakan untuk menganalisis jarak distribusi dan risiko transportasi. Contohnya, pengiriman antar negara dengan biaya berbeda berdasarkan jarak dan risiko geografis.
- **ABC:** Menghitung biaya transportasi, pergudangan, dan operasional berdasarkan aktivitas spesifik.
- **TP:** Harga transfer dihitung dengan mempertimbangkan biaya yang dihasilkan dari ABC berbasis lokasi, ditambah margin keuntungan.
\[
TP = \left( \frac{(10 \times 50 \times 5)}{(100 + 20 + 30 + 10)} \right) + 15
\]
Hasilnya adalah harga transfer yang adil dan transparan, berdasarkan data lokasi dan aktivitas aktual.
#### **Kasus Produksi di Beberapa Lokasi**
- Pabrik di lokasi A memiliki risiko tinggi (\(R\)) akibat bencana alam, sehingga memengaruhi biaya transfer.
- **GA:** Memasukkan risiko ke dalam perhitungan biaya.
- **ABC:** Mengalokasikan biaya aktivitas, seperti penggunaan energi dan transportasi.
Bahasa Indonesia:
TP = \left( \frac{\sum (\text{Aktivitas di Lokasi A})}{\text{Faktor Risiko di Lokasi A}} \right) + M
[Bahasa Indonesia]
Kesimpulan:
- Rumus ini menggabungkan:
- **TP (Transfer Pricing):** Penentuan harga transfer antar lokasi atau entitas.
- **ABC (Activity-Based Costing):** Alokasi biaya berdasarkan aktivitas spesifik.
- **GA (Akuntansi Geospasial):** Mempertimbangkan dampak lokasi geografis terhadap biaya dan risiko.
Rumus-rumus yang saya berikan sebelumnya berdasarkan pada beberapa teori dan konsep yang dikembangkan oleh beberapa peneliti dan ahli di bidang akuntansi, ekonomi, dan keuangan. Berikut adalah beberapa peneliti dan ahli yang berkontribusi pada pengembangan teori dan konsep yang mendasari rumus-rumus tersebut:
Geospatial Accounting (GA)
1. Dr. Robert Mugerauer - Pengembang teori Akuntansi Geospasial.
2. Dr. Martin Kornberger - Pengembang teori Akuntansi Geospasial.
Activity-Based Costing (ABC)
1. Dr. Robert Kaplan - Pengembang teori Akuntansi Biaya Berbasis Aktivitas.
2. Dr. Robin Cooper - Pengembang teori Akuntansi Biaya Berbasis Aktivitas.
Transfer Pricing
1. Dr. Paul Samuelson - Pengembang teori Ekonomi Internasional.
2. Dr. William Nordhaus - Pengembang teori Ekonomi Internasional.
Metode CUP (Comparable Uncontrolled Price)
1. Dr. Adam Smith - Pengembang teori Ekonomi Pasar.
2. Dr. David Ricardo - Pengembang teori Ekonomi Pasar.
Metode TNMM (Transactional Net Margin Method)
1. Dr. Ronald Coase - Pengembang teori Ekonomi Transaksi.
2. Dr. Oliver Williamson - Pengembang teori Ekonomi Transaksi.
Metode Cost Plus
1. Dr. Robert Kaplan - Pengembang teori Akuntansi Biaya.
2. Dr. Robin Cooper - Pengembang teori Akuntansi Biaya.
Metode RPM (Resale Price Method)
1. Dr. Adam Smith - Pengembang teori Ekonomi Pasar.
2. Dr. David Ricardo - Pengembang teori Ekonomi Pasar.
Rumus-rumus tersebut juga berdasarkan pada beberapa standar dan pedoman yang diterbitkan oleh organisasi-organisasi internasional, seperti OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) dan IASB (International Accounting Standards Board).
Perhitungan harga transfer pricing menggunakan berbagai metode dan mempertimbangkan faktor Geospatial Accounting (GA) dan Activity-Based Costing (ABC) berdasarkan teori yang mendasarinya:
Perbandingan harga transfer pricing antara dua tahun laporan keuangan menggunakan empat metode yang berbeda:
| Metode | Tahun 1 (Rp) | Tahun 2 (Rp) |
|---|---|---|
| CUP (Comparable Uncontrolled Price) | 1.557.000 | 1.632.000 |
| TNMM (Transactional Net Margin Method) | 2.044.500 | 2.163.000 |
| Cost Plus | 1.220.000 | 1.280.000 |
| RPM (Resale Price Method) | 1.837.500 | 1.923.000 |
Analisis Kenaikan Harga Transfer Pricing:
Berikut adalah contoh detil perhitungan harga transfer untuk masing-masing metode yang melibatkan GA dan ABC:
Langkah-langkah perhitungan:
Rumus:
Langkah-langkah perhitungan:
Rumus:
Langkah-langkah perhitungan:
Rumus:
Langkah-langkah perhitungan:
Untuk perhitungan lengkapnya, kita perlu memperhitungkan faktor GA dan ABC yang diintegrasikan dengan harga jual setelah diskon.
Yang dimaksud dengan penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak baik yang berasal baik...