Friday, August 15, 2025

SPT rugi = tidak ada, namun disebut dengan Rugi Fiskal yang artinya bukan "merugi" secara pengahsilan neto namun karena adanya koreksi fiskal.

Lapkeu Rugi → SPT Lebih Bayar

Lapkeu Rugi → SPT Nihil

-----------------------------------------

Lapkeu Neto → SPT bisa LB 

Lapkeu Neto → SPT bisa KB

Lapkeu Neto → SPT bisa Nihil

Lapkeu Neto → Rugi Fiskal (karena koreksi fiskal)


Thursday, August 14, 2025

Biaya Gaji Direktur dan Prive : Efisiensi yang akan datang

Sesuai Pasal 9 ayat (1) huruf j UU PPh, biaya yang tak dapat dibiayakan adalah gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham

Untuk efisiensi maka atas gaji Direktur dengan mekanisme prive setiap bulannya agar efisiensi untuk melakukan koreksi koreksi fiskal.

ketentuan di Pasal 9 ayat (1) huruf j UU PPh berlaku umum untuk semua bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak berbadan hukum sesuai kriteria yang disebutkan — termasuk usaha jasa konstruksi — selama bentuk usahanya adalah persekutuan, firma, atau CV yang modalnya tidak terbagi atas saham.
  • Jika usaha jasa konstruksi berbentuk PT → gaji direksi/komisaris bisa dibiayakan sesuai ketentuan.
  • Jika berbentuk CV, firma, atau persekutuan → gaji yang dibayarkan kepada pemilik atau sekutu tetap tidak boleh menjadi biaya, walaupun bekerja aktif dalam proyek konstruksi.
  • Alasannya: anggota dianggap pemilik modal sekaligus penerima laba, sehingga imbalan kerja mereka dianggap bagian dari laba, bukan beban.

1. Gaji untuk Direktur di Usaha Jasa Konstruksi

  • Kalau bentuk usahanya PT (Perseroan Terbatas):

    Gaji yang dibayarkan kepada direktur (yang juga pemegang saham) dapat dibiayakan sepanjang yang bersangkutan statusnya adalah pegawai tetap/organ perusahaan dan masuk dalam penghasilan yang dipotong PPh 21.
    → Jadi tidak perlu koreksi fiskal, karena biaya tersebut deductible menurut Pasal 6 UU PPh, bukan termasuk Pasal 9.

  • Kalau bentuk usahanya Firma, CV, atau persekutuan:
    Sesuai Pasal 9 ayat (1) huruf j UU PPh, gaji yang dibayarkan kepada sekutu atau anggota (termasuk direktur bila dia pemilik modal) tidak dapat menjadi biaya.
    → Maka harus dilakukan koreksi fiskal positif atas gaji yang dibayarkan kepada direktur/pemilik.

2. Konteks Jasa Konstruksi

  • Tidak ada pengecualian khusus untuk sektor jasa konstruksi terkait perlakuan gaji direktur.

  • Yang membedakan hanyalah bentuk badan usahanya.

3. Ringkasnya

  • PT jasa konstruksi → gaji direktur = biaya (deductible), tidak koreksi fiskal.

  • Firma/CV jasa konstruksi → gaji direktur = tidak boleh dibiayakan, wajib koreksi fiskal positif.

Wednesday, August 13, 2025

Das Sein and Das Solen Amplop : konsepnya adalah no regret.

Das Sein : selisih lebih amplop kondangan

Das Solen : kondangan adalah niat bersykur berbagi kebahagian maka tidak ada asas timbal balik

Das Sein : selisih lebih amplop kondangan

Das Solen : kondangan adalah niat bersykur berbagi kebahagian maka tidak ada asas timbal balik.

1. Das Sein (fakta empiriknya)

Fenomena yang terjadi adalah selisih lebih amplop kondangan — artinya jumlah uang yang diterima dari tamu undangan pada acara pernikahan atau hajatan lebih besar dari jumlah uang yang pernah diberikan  di acara serupa sebelumnya. Ini murni observasi keadaan apa adanya, tanpa penilaian norma.

2. Das Sollen (norma yang seharusnya)

Secara etika sosial, kondangan dianggap niat bersyukur dan berbagi kebahagiaan, bukan transaksi ekonomi. Jadi tidak ada asas timbal balik yang mengharuskan jumlah amplop harus setara dengan yang pernah diberikan. Das Sollen ini merefleksikan nilai moral dan budaya — bahwa kondangan adalah bentuk dukungan, doa, dan silaturahmi, bukan hitung-hitungan untung-rugi.

Kalaupun dihitung untuk hitungan efisiensi. Kelebihan merupakan ekspektasi yang tidak diharapkan atas rasa syukur.

Jadi itu adalah konsepnya adalah no regret.

Monday, August 11, 2025

Normalisasi dan Bobot

Hitungan Bobot dan Nilai berbobot secara manual dari data 20 pegawai
Langkah Perhitungan:
1.  Menentukan Bobot
  • Misal bobot diambil secara proporsional dari total target semua pegawai (bisa juga dari kriteria lain). 
  •  Rumus : Bobot=Target Pegawai/Total Target Semua Pegawai\
  •  Nilai Berbobot=Normalisasi×Bobot
  • Total bobot akan = 1,000000.
2.  Menghitung Nilai Berbobot :  Rumus: Normalisasi = Aktual ÷ Target.

Pegawai

Target

Aktual

Normalisasi

Bobot (6 desimal)

Nilai Berbobot (6 desimal)

P1

223

160

0.717040

0.058906

0.042231

P2

123

100

0.813008

0.045603

0.037025

P3

184

194

1.054348

0.062151

0.065460

P4

152

141

0.927632

0.055317

0.051283

P5

281

263

0.935946

0.050673

0.047445

P6

248

233

0.939516

0.060170

0.056560

P7

136

123

0.904412

0.067973

0.061470

P8

239

215

0.899580

0.046960

0.042264

P9

226

249

1.101770

0.058082

0.064027

P10

101

84

0.831683

0.050059

0.041649

P11

90

80

0.888889

0.052041

0.046254

P12

221

236

1.067873

0.065291

0.069643

P13

128

107

0.835938

0.043003

0.035942

P14

176

187

1.062500

0.067217

0.071440

P15

110

95

0.863636

0.043849

0.037873

P16

188

207

1.101064

0.063221

0.069183

P17

160

153

0.956250

0.048938

0.046755

P18

276

244

0.884058

0.048106

0.042512

P19

142

115

0.809859

0.055623

0.045052

P20

174

162

0.931034

0.055457

0.051637


3. Kontribusi (%) dan contoh 2 hitungan manual 
Tabel dengan Kontribusi (%)

Pegawai

Target

Aktual

Normalisasi

Bobot (6 desimal)

Nilai Berbobot (6 desimal)

Kontribusi (%)

P1

223

160

0.717040

0.058906

0.042231

4.22%

P2

123

100

0.813008

0.045603

0.037025

3.70%

P3

184

194

1.054348

0.062151

0.065460

6.55%

P4

152

141

0.927632

0.055317

0.051283

5.13%

P5

281

263

0.935946

0.050673

0.047445

4.74%

...

...

...

...

...

...

...

P20

174

162

0.931034

0.055457

0.051637

5.16%

Kontribusi (%) = Nilai Berbobot × 100
Contoh Hitungan Manual
Kita ambil P1 dan P3:
Data P1  
1.            Normalisasi :  160/223=0.717040
2.            Bobot :  Total target semua pegawai = 3783 adalah 223/3783=0.058906
3.            Nilai Berbobot : 0.71/7040×0.058906=0.042231
4.            Kontribusi (%) : 0.042231×100=4.22%
Data P3 
1.            Normalisasi = 194/184=1.054348
2.            Bobot = 184/3783=0.062151
3.            Nilai Berbobot = 1.054348×0.062151=0.065460
4.            Kontribusi (%) = 0.065460×100=6.55%
 

Saturday, August 09, 2025

Friday, August 08, 2025

Metode Range : Analisis : Cara Sederhana Menilai Kesehatan Keuangan Industri dan Perdagangan


Metode Range: Cara Sederhana Menilai Kesehatan Keuangan Industri dan Perdagangan

Kunci : 1 produk bisa sama NPM nya namun 1 unsur biaya pembeda maka beda NPM nya apalagi 2 produk.
Catatan : auditor dalam pengertian peneliti atau pemeriksa atau auditor pada umumnya. Pengertian auditor untuk akomodir istilah di buku sumber karena jabatan dan fungsi dapat berbeda.

Oleh: Eko Susilo, S.T., M.A.P.
Email: eko.susilo@gmail.com


Pendahuluan

Garis Atas (Rentang Ideal)Menunjukkan rentang NPM yang dianggap wajar, yaitu dari 6% hingga 8%. Ini adalah acuan utama dalam analisis.  

Tiga Kolom Analisis:  

  1. Kolom Kiri (NPM < 6%): Jika hasil NPM berada di bawah batas wajar (misalnya 5.9%), ini akan memicu "Notifikasi" dan memerlukan penyelidikan lebih lanjut.
  2. Kolom Tengah (NPM 6% - 8%): Jika hasil NPM berada di dalam rentang yang ditentukan, dianggap "Diterima (Wajar)". Contohnya adalah 6.7% atau 7.5%.
  3. Kolom Kanan (NPM > 8%): Jika hasil NPM berada di atas batas wajar (misalnya 8.5%), ini tidak langsung dianggap kecurangan. Hasil ini akan dicatat sebagai "Diterima ", artinya persentase tinggi tersebut bisa diterima setelah diuji kewajarannya.

Penerapan bisa terletak pada posisi apapun, existensi tidak terkecuali bukan auditor (Pemeriksa) pun dapat diterapkan. Analis Pajak dan posisi apapun terkait teknis perpajakan. Ini merupakan cluster dari penggunaan analisa dengan Metode Range.
Mudahnya begini :
Analisa NPM dari suatu entitas dalam Lapkeu adalah 7%.  RANGENYA 6% S.D 8%.
Kalau ada entitas dengan margin error 1 % maka angka 6.7% s.d 6.9 % , diterima, 
Batas atas 8%.
Maka jika berada di batas atas, tidak diuji pada fraudnya tapi kewajaran anomalinya pada bagian ketidakwajaran lainnya artinya persentase diatas 8% dapat diterima.
Jika 5.9 % atau 5.8% maka udah jelas masuk ke "notifikasi".
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Banyak pelaku usaha di sektor industri maupun perdagangan di Indonesia telah mampu menyusun laporan keuangan. Namun, pertanyaan yang sering kali belum terjawab adalah: apakah keuangan usaha mereka benar-benar sehat?.  Di sinilah analisis rasio keuangan dengan metode range hadir sebagai solusi. Meski sederhana, metode ini digunakan oleh auditor, analis, dan lembaga keuangan di seluruh dunia, serta diakui dalam standar audit internasional ISA 520 (Analytical Procedures) (IAASB, 2018, p. 574).


Landasan Teori : 

Analisis rasio keuangan adalah metode untuk menilai kinerja keuangan dengan membandingkan elemen-elemen laporan keuangan agar menghasilkan indikator yang bermakna (Kieso, Weygandt, & Warfield, 2020, p. 224).  

Metode range adalah penerapan analisis rasio dengan pendekatan batas atas dan bawah yang dianggap wajar atau sehat menurut praktik industri atau perdagangan. Konsep ini berakar dari benchmarking—membandingkan hasil usaha dengan standar industri yang bertujuan:

  1. Mengukur kesehatan keuangan secara objektif.

  2. Mengidentifikasi potensi risiko seperti likuiditas rendah, leverage berlebih, atau margin keuntungan tidak normal.

  3. Memberikan peringatan dini sebelum masalah keuangan menjadi serius.

Standar ISA 520 menyebutkan bahwa auditor wajib menggunakan prosedur analitis, termasuk membandingkan data keuangan dengan rata-rata industri dan tren historis, sebagai bagian dari penilaian kewajaran laporan keuangan (IAASB, 2018, p. 574–575).

Kutipan :

Menurut ISA 520, auditor wajib menggunakan prosedur analitis untuk menilai kewajaran laporan keuangan dengan membandingkan informasi dengan data historis dan rata-rata industri (paragraf 3; “Objectives”)

Kieso et al. menekankan pentingnya analisis rasio dalam menilai kesehatan keuangan dan kestabilan laporan (lihat edisi Intermediate Accounting ke-17, diskusi konsep rasio—sekitar halaman 224)

Brigham dan Ehrhardt (edisi terbaru) menjelaskan bahwa “profit margin on sales” mencerminkan efisiensi operasional, dihitung sebagai laba bersih dibagi penjualan, dengan tolok ukur industri sebagai pembanding (lihat bagian “Profit Margin on Sales”) 


Penerapan pada Industri dan Perdagangan

Baik pada sektor industri (misalnya manufaktur, pengolahan makanan, tekstil) maupun perdagangan (ritel, distribusi, e-commerce), Metode Range dapat digunakan untuk:

  • Industri: Mengevaluasi efisiensi produksi, struktur modal, dan margin keuntungan dari penjualan produk (Brigham & Ehrhardt, 2019, p. 146).

  • Perdagangan: Memeriksa perputaran persediaan, efisiensi penggunaan modal kerja, dan tingkat keuntungan dari penjualan barang dagang (Brigham & Ehrhardt, 2019, p. 332).


Lama Dianggap Baru : jangan akal-akaan

 Harus bersyarat : 1. Continuity of Business 2. Continuity of Control 3. Continuity of Assets & Economics  Jadi ujinya tidak asal. Ada d...